<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Abu Hafshah's Personal Blog</title>
	<atom:link href="http://abuhafsh.salafy.ws/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://abuhafsh.salafy.ws</link>
	<description>Just another Salafy.ws weblog</description>
	<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 01:38:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.5</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Keutamaan Islam Dan Keindahannya</title>
		<link>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/keutamaan-islam-dan-keindahannya/</link>
		<comments>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/keutamaan-islam-dan-keindahannya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 02:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rismaka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/keutamaan-islam-dan-keindahannya/</guid>
		<description><![CDATA[Islam adalah agama yang memiliki banyak keutamaan yang agung dan membuahkan hal-hal yang terpuji dan hasil-hasil yang mulia. Di antara keutamaan dan keindahan Islam adalah:
[1]. Islam menghapus seluruh dosa dan kesalahan bagi orang kafir yang masuk Islam.
Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla.

“Artinya : Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, (Abu Sufyan dan kawan-kawannya) ‘Jika mereka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Islam adalah agama yang memiliki banyak keutamaan yang agung dan membuahkan hal-hal yang terpuji dan hasil-hasil yang mulia. Di antara keutamaan dan keindahan Islam adalah:</p>
<p>[1]. Islam menghapus seluruh dosa dan kesalahan bagi orang kafir yang masuk Islam.</p>
<p>Dalilnya adalah firman Allah Azza wa Jalla.</p>
<p><span id="more-10"></span>
<p>“Artinya : Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, (Abu Sufyan dan kawan-kawannya) ‘Jika mereka berhenti (dari kekafiran-nya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu; dan jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi), sungguh akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang terdahulu (dibinasakan).” [Al-Anfaal: 38]</p>
<p>Shahabat ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu &#8216;anhu yang menceritakan kisahnya ketika masuk Islam, beliau Radhiyallahu &#8216;anhu berkata:</p>
<p>“Artinya : &#8230; Ketika Allah menjadikan Islam dalam hatiku, aku mendatangi Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, dan aku berkata, ‘Bentangkanlah tanganmu, aku akan berbai’at kepadamu.’ Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallammembentangkan tangan kanannya. Dia (‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu &#8216;anhu) berkata, ‘Maka aku tahan tanganku (tidak menjabat tangan Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam).’ Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bertanya, ‘Ada apa wahai ‘Amr?’ Dia berkata, ‘Aku ingin me-minta syarat!’ Maka, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bertanya, ‘Apakah syaratmu?’ Maka aku berkata, ‘Agar aku diampuni.’ Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam berkata, ‘Apakah engkau belum tahu bahwa sesungguhnya Islam itu menghapus dosa-dosa yang dilakukan sebelumnya, hijrah itu menghapus dosa-dosa sebelumnya, dan haji itu menghapus dosa-dosa sebelumnya?’” [2]</p>
<p>[2]. Apabila seseorang masuk Islam kemudian baik ke-Islamannya, maka ia tidak disiksa atas perbuatannya pada waktu dia masih kafir, bahkan Allah Azza wa Jalla akan melipatgandakan pahala amal-amal kebaikan yang pernah dilakukannya. Dalam sebuah hadits dinyatakan:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Jika baik keIslaman seseorang di antara kalian, maka setiap kebaikan yang dilakukannya akan ditulis sepuluh kali lipat sampai tujuh ratus kali lipat. Adapun keburukan yang dilakukannya akan ditulis satu kali sampai ia bertemu Allah.” [3]</p>
<p>[3]. Islam tetap menghimpun amal kebaikan yang pernah dilakukan seseorang baik ketika masih kafir maupun ketika sudah Islam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Hakim bin Hizam Radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memandang perbuatan-perbuatan baik yang aku lakukan sewaktu masa Jahiliyyah seperti shadaqah, membebaskan budak atau silaturahmi tetap mendapat pahala?” Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Engkau telah masuk Islam beserta semua kebaikanmu yang dahulu.” [4]</p>
<p>[4]. Islam sebagai sebab terhindarnya seseorang dari siksa Neraka.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Anas Radhiyallahu &#8216;anhu, beliau berkata, “Ada seorang anak Yahudi yang selalu membantu Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, kemudian ia sakit. Maka, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam datang menengoknya, lalu duduk di dekat kepalanya, seraya mengatakan, ‘Masuk Islam-lah!’ Maka anak Yahudi itu melihat ke arah ayahnya yang berada di sampingnya, maka ayahnya berkata, ‘Taatilah Abul Qasim (Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam).’ Maka anak itu akhirnya masuk Islam. Kemudian Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam keluar seraya mengatakan, ‘Segala puji hanya milik Allah yang telah menyelamatkannya dari siksa Neraka.’” [5]</p>
<p>Dalam hadits lain yang berasal dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu, Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“&#8230;Sesungguhnya tidak akan masuk Surga melainkan jiwa muslim dan sesungguhnya Allah menolong agama ini dengan orang-orang fajir.” [6]</p>
<p>[5]. Kemenangan, kesuksesan dan kemuliaan terdapat dalam Islam.</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu &#8216;anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam, dan diberi rizki yang cukup dan Allah memberikan sifat qana’ah (merasa cukup) atas rizki yang ia terima.” [7]</p>
<p>‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu berkata, “Kami adalah suatu kaum yang telah dimuliakan oleh Allah Azza wa Jalla dengan Islam, maka bila kami mencari kemuliaan dengan selain cara-cara Islam maka Allah akan menghinakan kami.” [8]</p>
<p>[6]. Kebaikan seluruhnya terdapat dalam Islam. Tidak ada kebaikan baik di kalangan orang Arab maupun non Arab, melainkan dengan Islam.<br />
Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>Artinya : “Setiap penghuni rumah baik dari kalangan orang Arab atau orang Ajam (non Arab), jika Allah menghendaki kepada mereka kebaikan, maka Allah berikan hidayah kepada mereka untuk masuk ke dalam Islam, kemudian akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah seperti naungan awan.” [9]</p>
<p>[7]. Islam membuahkan berbagai macam kebaikan dan keberkahan di dunia dan akhirat.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak menzhalimi satu kebaikan pun dari seorang mukmin, diberi dengannya di dunia dan dibalas dengannya di akhirat. Adapun orang kafir diberi makan dengan kebaikan yang dilakukannya karena Allah di dunia sehingga jika tiba akhirat, kebaikannya tersebut tidak akan dibalas.” [10]</p>
<p>[8]. Suatu amal shalih yang sedikit dapat menjadi amal shalih yang banyak dengan sebab Islam yang shahih, yaitu tauhid dan ikhlas. Beramal sedikit saja namun diberikan ganjaran dengan pahala yang melimpah.<br />
Dalam sebuah hadits dinyatakan:</p>
<p>&#8220;Artinya : Dari al-Bara’ Radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata, “Seorang laki-laki yang memakai pakaian besi mendatangi Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam kemudian ia bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah aku boleh ikut perang ataukah aku masuk Islam terlebih dahulu?’ Maka, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjawab, ‘Masuk Islamlah terlebih dahulu, baru kemudian ikut berperang.’ Maka, laki-laki tersebut masuk Islam lalu ikut berperang dan akhirnya terbunuh (dalam peperangan). Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun bersabda: ‘Laki-laki tersebut beramal sedikit namun diganjar sangat banyak.’”[11]</p>
<p>[9]. Islam membuahkan cahaya bagi penganutnya di dunia dan akhirat.<br />
Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>“Maka apakah orang-orang yang dibukakan hatinya oleh Allah untuk (menerima) agama Islam lalu dia mendapat cahaya dari Rabb-nya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka, celakalah mereka yang hatinya telah membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” [Az-Zumar: 22]</p>
<p>[10]. Islam menyuruh kepada setiap kebaikan dan melarang dari setiap keburukan. Tiada satu pun kebaikan, baik yang kecil maupun yang besar, melainkan Islam telah membimbingnya dan menunjukinya, sebaliknya tidak ada satu pun keburukan melainkan Islam telah mem-peringatkan dan melarangnya.</p>
<p>[11]. Islam menjaga agama. Islam mengharamkan seseorang murtad (keluar dari agama Islam), bahkan orang yang murtad boleh dibunuh.</p>
<p>[12]. Islam menjaga jiwa. Allah Azza wa Jalla mengharamkan pembunuhan dan penumpahan darah umat Islam. Islam memelihara jiwa, oleh karena itu Islam mengharamkan pembunuhan secara tidak haq (benar), dan hukuman bagi orang yang membunuh jiwa seseorang secara tidak benar adalah hukuman mati.</p>
<p>Maka dari itu jarang terjadi pembunuhan di negeri yang menerapkan syari’at Islam. Karena apabila seseorang mengetahui bahwa bila ia membunuh seseorang akan di-bunuh pula maka ia tidak akan melakukan pembunuhan, karena hal itu masyarakat hidup dengan penuh rasa aman dari kejahatan pembunuhan.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>“Dan dalam qishash itu ada (jaminan) kehidupan bagimu, wahai orang-orang yang berakal, agar kamu bertaqwa.” [Al-Baqarah: 179]</p>
<p>
[13]. Islam menjaga akal. Oleh karena itu Islam mengharamkan setiap yang memabukkan seperti khamr (minuman keras), narkoba dan rokok.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr (minuman keras), berjudi, (berkorban untuk) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung.” [Al-Maa-idah: 90]</p>
<p>Khamr adalah apa-apa yang menutup akal, baik bentuk-nya basah maupun kering, yang dimakan atau diminum dan setiap yang memabukkan adalah sumber dari segala kejelekan, sarangnya dosa dan pintu setiap kejelekan. Barang-siapa yang tidak menjauhkannya, maka ia telah durhaka kepada Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan ia berhak mendapatkan hukuman, siksa, adzab dan diancam dengan masuk Neraka. Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam diutus untuk menghalalkan yang baik-baik dan mengharamkan yang jelek-jelek.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>“…Dan yang menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan yang mengharamkan bagi mereka segala yang buruk…” [Al-A’raaf: 157]</p>
<p>[14]. Islam menjaga harta. Oleh karena itu Islam menga-jarkan amanah (kejujuran) dan menghargai orang-orang yang amanah, bahkan menjanjikan kehidupan bahagia dan Surga kepada mereka. Islam melarang menipu, korupsi dan mencuri serta mengancam pelakunya dengan hukuman. Islam mensyari’atkan had pencurian, yaitu potong tangan pencuri agar seseorang tidak memberanikan diri mencuri harta orang lain. Dan apabila ia tidak merasa takut akan hukuman di akhirat, maka ia akan jera karena dipotong tangannya. Maka dari itu, masyarakat yang hidup di suatu negeri yang menerapkan syari’at Islam merasa aman terhadap harta kekayaan mereka, bahkan jikalau potong tangan di-laksanakan maka sangat jarang sekali adanya pencuri. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>“Artinya : Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas per-buatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Mahabijaksana.” [Al-Maa-idah: 38]</p>
<p>[15]. Islam menjaga nasab (keturunan). Allah Azza wa Jalla mengharamkan zina dan segala jalan yang membawa kepada zina. Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>“Artinya : Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” [Al-Israa’: 32]</p>
<p>Allah Azza wa Jalla juga berfirman:</p>
<p>“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah masing-masing seorang dari keduanya seratus kali dera dan janganlah rasa belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang beriman.” [An-Nuur: 2]</p>
<p>[16]. Islam menjaga kehormatan. Allah Azza wa Jalla mengharamkan menuduh orang baik-baik sebagai pezina atau dengan tuduhan-tuduhan lainnya yang merusak kehormatan-nya.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (dengan tuduhan berzina), mereka dilaknat di dunia dan akhirat dan bagi mereka adzab yang besar. Pada hari (ketika) lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” [An-Nuur : 23-24]</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>“Artinya : Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan tanpa ada kesalahan yang mereka perbuat, maka sungguh mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” [Al-Ahzaab: 58]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“&#8230; Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian, kehormatan kalian, haram atas kalian seperti terlarang-nya hari ini, bulan ini dan negeri ini, hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir&#8230;” [12]</p>
<p>Islam memerintah kepada setiap kebaikan dan melarang dari setiap keburukan. Setiap perintah agama Islam pasti mengandung manfaat dan kebaikan, dan sebaliknya setiap larangan agama Islam pasti mengandung kerugian dan kejelekan. Oleh karena itu setiap perintah dan larangan Islam termasuk di antara keindahannya.</p>
<p>[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2]<br />
__________<br />
Foote Note<br />
[1]. Pembahasan ini diambil dari kitab Nurul Islam wa Zhulumatil Kufri oleh Syaikh Dr. Sa’id bin Wahf al-Qahthani, dan ath-Thariiq ilal Islaam oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.<br />
[2]. HR. Muslim: Kitabul Iman (no. 121) dari ‘Amr bin al- ‘Ash Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[3]. HR. Muslim dalam Kitabul Iman (no. 129) dari Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[4]. HR. Al-Bukhari, Kitab Zakat (no. 1436, 2220, 2538, 5992) dan Muslim dalam Kitabul Iman (no. 123), dari Shahabat Hakim bin Hizam Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 1356, 5657) dari Shahabat Anas Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[6]. HR. Al-Bukhari, Kitab Jihad (no. 3062) dan Muslim (no. 111), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[7]. HR. Muslim dalam Kitab Zakat (no. 1054) dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[8]. Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak (I/62), ia berkata shahih dan disetujui oleh adz-Dzahabi dari Thariq bin Syihab rahimahullah<br />
[9]. HR. Ahmad (III/477), al-Hakim (I/34) dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Silsilah al-Ahaadits ash-Shahiihah (no. 51) dari Shahabat Kurz bin ‘Alqamah al-Khuza’iy Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[10]. HR. Muslim (no. 2808 (56)), dari Shahabat Anas bin Malik Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[11]. HR. Al-Bukhari dalam Kitab Jihad (no. 2808) dan Muslim dalam Kitab ‘Imarah (no. 1900), lafazh hadits ini milik al-Bukhari, dari Shahabat Bara’ bin ‘Azib Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[12]. Yang melaksanakan perkara ini adalah ulil amri (penguasa).</p>
<p>Oleh<br />
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/keutamaan-islam-dan-keindahannya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Keindahan Islam Yang Berupa Perintah-Perintah Dan Larangan-Larangan</title>
		<link>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/keindahan-islam-yang-berupa-perintah-perintah-dan-larangan-larangan/</link>
		<comments>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/keindahan-islam-yang-berupa-perintah-perintah-dan-larangan-larangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 01:06:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rismaka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/keindahan-islam-yang-berupa-perintah-perintah-dan-larangan-larangan/</guid>
		<description><![CDATA[A. KEINDAHAN ISLAM YANG BERUPA PERINTAH-PERINTAH[1]
[1]. Islam memerintahkan kita agar bertauhid secara murni (beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja, tidak kepada yang selain-Nya), ber‘aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman para Shahabat karena yang demikian itu dapat membawa kepada ketentraman hati. ‘Aqidah yang diajarkan Islam dapat menjadikan mulia, menampakkan harga diri dan memberikan kelezatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. KEINDAHAN ISLAM YANG BERUPA PERINTAH-PERINTAH[1]<br />
[1]. Islam memerintahkan kita agar bertauhid secara murni (beribadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla saja, tidak kepada yang selain-Nya), ber‘aqidah yang benar sesuai dengan pemahaman para Shahabat karena yang demikian itu dapat membawa kepada ketentraman hati. ‘Aqidah yang diajarkan Islam dapat menjadikan mulia, menampakkan harga diri dan memberikan kelezatan iman.</p>
<p><span id="more-9"></span>
<p>[2]. Islam memerintahkan agar berbakti kepada kedua orang tua, menghubungkan silaturahmi dan menghormati tetangga.</p>
<p>[3]. Islam mengajarkan agar berbuat dan berupaya untuk memenuhi dan membantu kebutuhan-kebutuhan kaum Muslimin dan meringankan beban kesengsaraan mereka.</p>
<p>[4]. Islam menganjurkan terlebih dahulu memberi ucapan salam kepada setiap muslim yang kita jumpai dan menolong kaum Muslimin.</p>
<p>[5]. Islam mengajurkan agar menjenguk orang yang sakit, mengantar jenazah, berziarah kubur, dan mendo’akan sesama kaum Muslimin.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>“Artinya : Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam.” (Para Shahabat bertanya), “Apa saja wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “(1) Apabila engkau berjumpa dengan-nya, maka ucapkanlah salam, (2) bila ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya, (3) bila ia meminta nasihat, maka nasihatilah, (4) bila ia bersin lalu mengu-capkan tahmid (alhamdulillaah), maka do’akanlah (dengan ucapan: ‘Yarhamukallaah’), (5) bila ia sakit, maka jenguklah, dan (6) bila ia wafat, maka antarkanlah jenazahnya (ke pemakaman).” [2]</p>
<p>[6]. Islam menyuruh agar berlaku adil kepada orang lain dan mencintai apa yang dicintai mereka sebagaimana kita mencintai diri sendiri.</p>
<p>“Artinya : …Berlaku adillah, karena (adil itu) lebih dekat kepada takwa….” [Al-Maa-idah: 8]</p>
<p>[7]. Islam menyuruh berikhtiar untuk mencari rizki, menjaga kehormatan diri dan mengangkatnya dari posisi yang hina dan lemah.</p>
<p>Dalam mencari rizki, seseorang hendaknya berikhtiar terlebih dahulu, baru kemudian bertawakal (menggantungkan harapan) hanya kepada Allah Azza wa Jalla, sebagaimana yang diperin-tahkan Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam:</p>
<p>“Artinya : Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka sungguh kalian akan diberikan rizki oleh Allah sebagaimana Dia memberikannya kepada burung. Pagi hari ia keluar dalam keadaan kosong perutnya, kemudian pulang di sore hari dalam keadaan kenyang.” [3]</p>
<p>[8]. Islam mengajarkan berlaku amanah (dipercaya), menempati janji, baik sangka (husnu zhan), tidak tergesa-gesa dalam segala perkara dan berlomba dalam melakukan kebajikan.</p>
<p>B. KEINDAHAN ISLAM YANG BERUPA LARANGAN-LARANGAN<br />
Di antara keindahan Islam adalah larangan-larangan yang memperingatkan seorang muslim agar tidak terje-rumus ke dalam keburukan dan ancaman keras atas akibat buruk dari perbuatan tercela itu. Di antara larangan Islam itu adalah.</p>
<p>[1]. Islam melarang syirik, yaitu menyekutukan Allah Azza wa Jalla dengan sesuatu. Allah Azza wa Jalla berfirman.</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Allah meng-ampuni (dosa) selainnya bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An-Nisaa': 48]</p>
<p>[2]. Islam melarang kekafiran, kefasikan, kedurhakaan dan menuruti keinginan hawa nafsu.</p>
<p>[3]. Islam melarang bid’ah (mengadakan sesuatu ibadah yang baru dalam agama).</p>
<p>[4]. Islam melarang riba dan makan harta riba. Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala melaknat orang yang makan riba, wakilnya, saksi dan penulisnya.[4]</p>
<p>[5]. Islam melarang sifat takabur, dengki, ujub (bangga diri), hasad, mencela, memaki orang lain dan mengganggu tetangga.</p>
<p>[6]. Islam melarang perbuatan menggunjing (ghibah), yaitu membicarakan keburukan orang lain dan mengadu domba (namimah), yaitu mengadakan provokasi di antara sesama untuk menimbulkan kerusakan dan permusuhan.</p>
<p>[7]. Islam melarang banyak berbicara yang tidak berguna, menyebarluaskan rahasia orang lain, memperolok-olok dan menganggap remeh orang lain.</p>
<p>[8]. Islam juga melarang mencaci-maki, mengutuk, mencela dan ungkapan-ungkapan buruk dan memanggil orang lain dengan panggilan-panggilan buruk.</p>
<p>Allah Azza wa Jalla berfirman:</p>
<p>“Artinya : Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olok) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (fasiq) sesudah beriman dan barangsiapa yang tidak ber-taubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim. Wahai orang-orang yang beriman. Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [Al-Hujuraat: 10-12]</p>
<p>[9]. Islam melarang kita banyak berdebat, bertengkar, percandaan hina yang dapat membawa kepada kejahatan dan meremehkan orang lain.</p>
<p>[10]. Islam melarang pengkhianatan, perbuatan makar, ingkar janji dan fitnah yang dapat menyebabkan orang lain berada dalam ketidakpastian.</p>
<p>[11]. Islam melarang seorang anak durhaka kepada kedua orang tua dan memutus hubungan silaturahmi dengan sanak kerabat famili terdekat.</p>
<p>[12]. Islam melarang berburuk sangka, memata-matai dan mencari-cari kesalahan orang lain.</p>
<p>“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain&#8230;” [Al-Hujuraat: 12]</p>
<p>[13]. Islam melarang membuat tato, mengerik bulu wajah, mencukur alis, menyambung rambut (sanggul) dan memakai pakaian yang tidak menutup aurat.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Allah melaknat wanita yang bertato, wanita yang meminta ditato, wanita yang mengerik bulu wajah, wanita yang mencukur bulu alis matanya dan wanita yang mengikir giginya agar tampak cantik, mereka telah mengubah ciptaan Allah.” [5]</p>
<p>Dalam riwayat lain, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyambung rambut dan meminta disambung rambutnya.[6]</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengancam dengan masuk Neraka bagi wanita yang tidak berbusana muslimah (berjilbab yang menutupi aurat), Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda.</p>
<p>“Artinya : Ada dua golongan penduduk Neraka, yang belum pernah aku lihat keduanya, yaitu suatu kaum yang memegang cemeti seperti ekor sapi untuk mencambuk manusia dan wanita-wanita yang berpakaian tetapi telanjang, ia berjalan berlenggak-lenggok dan kepalanya dicondongkan seperti punuk unta yang condong. Mereka tidak akan masuk Surga dan tidak akan mencium aroma Surga, padahal sesungguhnya aroma Surga dapat tercium sejauh perjalanan begini dan begini.” [7]</p>
<p>Syarat jilbab wanita muslimah yang sempurna.<br />
a. Menutup seluruh tubuh, kecuali wajah dan dua telapak tangan.<br />
b. Kainnya tebal, tidak tipis atau transparan.<br />
c. Harus longgar, tidak ketat.<br />
d. Tidak memakai wangi-wangian (parfum).<br />
e. Tidak menyerupai pakaian laki-laki.<br />
f. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir.[8]</p>
<p>[14]. Islam melarang minuman keras (khamr), mengkonsumsi atau memperjualbelikan narkoba dan melarang perjudian.<br />
Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr (minuman keras), berjudi, ( berkorban untuk ) berhala dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan itu) agar kamu beruntung. Dengan minuman keras dan judi itu syaitan bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” [Al-Maa-idah: 90-91]</p>
<p>[15]. Islam melarang promosi palsu dan dusta, curang dalam takaran dan timbangan. Menggunakan harta kekayaan dalam hal yang diharamkan.<br />
Allah Azza wa Jalla berfirman.</p>
<p>“Artinya : Celakalah bagi orang-orang yang curang. (Yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang (untuk orang lain), mereka mengurangi.” [Al-Muthaffifin: 1-3]</p>
<p>[16]. Islam melarang perbuatan saling menjauhi satu sama lain, saling bermusuhan, acuh tak acuh dan melarang seorang muslim tidak menegur saudaranya sesama muslim lebih dari tiga hari.</p>
<p>Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>&#8220;Artinya : Tidak halal bagi seorang muslim untuk membiarkan saudaranya lebih dari tiga hari, keduanya bertemu te-tapi saling memalingkan muka. Dan yang terbaik dari keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” [9]</p>
<p>[17]. Islam melarang onani, perzinahan, homoseks, lesbian dan membunuh jiwa yang diharamkan Allah Azza wa Jalla. Allah Azza wa Jalla berfirman.</p>
<p>“Artinya : Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka (dalam hal ini) tiada tercela. Tetapi barangsiapa mencari yang di balik (zina dan sebagainya) itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” [Mukminun: 5-7]</p>
<p>[18]. Islam melarang kita menerima uang sogokan (suap) atau menyuap orang lain. Dalam sebuah hadits dari ‘Abdullah bin ‘Amr Radhiyallahu &#8216;anhuma.</p>
<p>“Artinya : Rasulullah j melaknat orang yang menyuap dan orang yang menerima suap.” [10]</p>
<p>Orang yang menyuap dan yang disuap hukumnya sama bagi keduanya, yaitu berdosa. Suap menyuap hukumnya haram, meskipun mereka memakai istilah “hadiah”, “uang jasa”, “uang damai”, dan lainnya.</p>
<p>Demikianlah ulasan singkat tentang perintah-perintah dan larangan-larangan Islam yang menunjukkan kebenaran dan keindahannya.</p>
<p>[Disalin dari buku Prinsip Dasar Islam Menutut Al-Qur’an dan As-Sunnah yang Shahih, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka At-Taqwa Po Box 264 Bogor 16001, Cetakan ke 2]<br />
__________<br />
Foote Note<br />
[1]. Lihat ath-Thariq ilal Islam oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.<br />
[2]. HR. Muslim (no. 2162 (5)) dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[3]. HR. At-Tirmidzi (no. 2344), Ahmad (I/30), Ibnu Majah (no. 4164). At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan shahih.” Dishahihkan pula oleh al-Hakim (IV/318) dari Shahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu &#8216;anhu, lafazh ini milik Ahmad.<br />
[4]. HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan lainnya.<br />
[5]. HR. Al-Bukhari (no. 4886, 5931, 5948) dan Muslim (no. 2125) dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu &#8216;anhu. Lihat keterangan lengkap dalam Adabuz Zifaf (hal 202-203).<br />
[6]. HR. Al-Bukhari (no. 5947) dan Muslim (no. 2124) dari Shahabat Ibnu ‘Umar Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[7]. HR. Muslim (no. 2128), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[8]. Untuk lebih lengkapnya, silakan lihat kitab Jilbabul Mar-atil Mus-limah oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah<br />
[9]. HR. Al-Bukhari (no. 6077) dan Muslim (no. 2560) dari Shahabat Abu Ayyub al-Anshary Radhiyallahu &#8216;anhu<br />
[10]. HR. Abu Dawud (no. 3580), at-Tirmidzi (no. 1337) dan ia berkata: “Hadits hasan shahih.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/keindahan-islam-yang-berupa-perintah-perintah-dan-larangan-larangan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Tauhid dalam Islam dan Urgensinya</title>
		<link>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/kedudukan-tauhid-dalam-islam-dan-urgensinya/</link>
		<comments>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/kedudukan-tauhid-dalam-islam-dan-urgensinya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 00:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rismaka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Tauhid]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/kedudukan-tauhid-dalam-islam-dan-urgensinya/</guid>
		<description><![CDATA[Kedudukan Tauhid
Sesungguhnya kaidah Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar; satu-satunya yang diterima dan diridloi Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala untuk hamba-hamba Nya, yang merupakan satu-satunya jalan menuju kepada Nya, kunci kebahagiaan dan jalan hidayah, tanda kesuksesan dan pemelihara dari berbagai perselisihan, sumber semua kebaikan dan nikmat, kewajiban pertama bagi seluruh hamba, serta [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kedudukan Tauhid</strong></p>
<p>Sesungguhnya kaidah Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar; satu-satunya yang diterima dan diridloi Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala untuk hamba-hamba Nya, yang merupakan satu-satunya jalan menuju kepada Nya, kunci kebahagiaan dan jalan hidayah, tanda kesuksesan dan pemelihara dari berbagai perselisihan, sumber semua kebaikan dan nikmat, kewajiban pertama bagi seluruh hamba, serta kabar gembira yang dibawa oleh para Rasul dan para Nabi adalah ibadah hanya kepada ALLAH Subhanahu Wa Ta&#8217;ala semata dan tidak menyekutukannya, bertauhid dalam semua keinginannya terhadap Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala, bertauhid dalam urusan penciptaan, perintah-Nya dan seluruh asma (nama-nama) dan sifat-sifat Nya. Allah Subhaanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): &#8220;Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu&#8221;<br />
(QS An Nahl: 36)</p>
<p><span id="more-8"></span>
<p>&#8221; Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: &#8220;Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku&#8221;. (QS Al Anbiya&#8217; : 25)</p>
<p>&#8220;Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.&#8221; (QS At Taubah: 31)</p>
<p>&#8220;Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).&#8221;<br />
(QS Az Zumar: 2-3)</p>
<p>&#8220;Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus&#8221;<br />
(QS Al Bayyinah: 5)</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan:<br />
&#8220;Orang yang mau mentadabburi keadaan alam akan mendapati bahwa sumber kebaikan di muka bumi ini adalah bertauhid dan beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala serta taat kepada Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. Sebaliknya semua kejelekan di muka bumi ini; fitnah, musibah, paceklik, dikuasai musuh dan lain-lain penyebabnya adalah menyelisihi Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan berdakwah (mengajak) kepada selain Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala. Orang yang merenungi hal ini dengan sebenar-benarnya akan mendapati kenyataan seperti ini baik dalam dirinya maupun di luar dirinya.&#8221; (Majmu&#8217; Fatawa 15/25)</p>
<p>Karena kenyataannya demikian dan pengaruhnya-pengaruhnya yang terpuji ini, maka syetan adalah makhluk yang paling cepat (dalam usahanya) untuk menghancurkan dan merusaknya. Senantiasa bekerja untuk melemahkan dan membahayakan tauhid itu. Syetan lakukan hal ini siang malam dengan berbagai cara yang diharapkan membuahkan hasil.</p>
<p>Jika syetan tidak berhasil (menjerumuskan ke dalam) syirik akbar, syetan tidak akan putus asa untuk menjerumuskan ke dalam syirik dalam berbagai kehendak dan lafadz (yang diucapkan manusia). Jika masih juga tidak berhasil maka ia akan menjerumuskan ke dalam berbagai bid&#8217;ah dan khurafat.<br />
(Al Istighatsah, karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah hal 293, lihat Muqaddimah Fathul Majiid tahqiq DR Walid bin Abdurrahman bin Muhammad Ali Furayyaan, hal 4)</p>
<p>Setiap dakwah Islam yang baru muncul tidak dibangun di atas tauhid yang murni kepada Allah Subhaanahu Wa Ta&#8217;ala dan tidak menempuh jalan yang telah dilalui oleh para salaful ummah yang shalih, maka akan tersesat hina dan gagal, meski dikira berhasil, tidak sabar ketika berhadapan dengan musuh, tidak kokoh dalam al haqq dan tidak kuat berhadapan (dengan berbagai rintangan).</p>
<p>Kita saksikan banyak contoh-contoh dakwah yang dicatat dalam sejarah berbicara kenyataan yang menyedihkan ini dan akhir yang buruk. Dakwah-dakwah yang berlangsung bertahun-tahun, yang telah mengorbankan nyawa dan harta kemudian berakhir dengan kebinasaan.</p>
<p>Namun seorang mu&#8217;min yang yakin dengan janji Allah yang pasti benar, tidak akan putus asa dan menjadi kendor, tidak akan gentar menghadapi berbagai cobaan dan tidak akan menerima jika sekian banyak percobaan-percobaan itu berlangsung silih berganti tanpa ada manfaat yang diambil atau jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.<br />
(Sebagaimana hadits dari sahabat Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no 6133) dan Imam Muslim (no 2998) serta Imam Ahmad dalam Musnadnya (2/379)</p>
<p>Sudah ada teladan dan contoh yang paling bagus pada diri Rasulullah Shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam. Allah Subhanahu Wa Ta&#8217;ala berfirman:</p>
<p>&#8220;Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat.&#8221; (QS Al Ahzab: 21)</p>
<p>Inilah manhaj pertama dari Nabi shallallaahu &#8216;alaihi wa sallam dalam berdakwah kepada tauhid, memulai dengan tauhid dan mendahulukan tauhid dan semua urusan yang dianggap penting.</p>
<p>Urgensi Tauhid<br />
Untuk memperkokoh pemahaman kita tentang pentingnya aqidah tauhid dalam kehidupan, maka pada kesempatan ini Al Madina mencoba mengangkat tulisan syaikh jamil zainu seorang ulama besar di jazirah Saudi Arabia, yang disusun dalam poin-poin dengan maksud memudahkan pemahaman kita.</p>
<p>Allah telah menciptakan alam semesta untuk sebuah tujuan yaitu ibadah(tauhid), dan Allah mengutus para rasul untuk menyeru manusia kepada tauhid ini. Bahkan Al Quran mengkedepankan pembahasan tauhid ini dalam kebanyakan surat-suratnya.al quran pun memaparkan kejelekan syirik(lawan dari tauhid) yang berlaku pada individu dan masyarakat.</p>
<p>Syirik pula merupakan sebab kehancuran kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Sesungguhnya para Rasul memulai dakwah mereka untuk mengajak manusia kepada Tauhid. Firman ALLAH yg artinya : &#8220;Tidaklah Kami mengutus seorang rasul sebelummu kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Aku, maka beribadahlah kepada-Ku&#8221; (QS Surat Al Anbiya&#8217;)</p>
<p>Rasul pun mentarbiyah(memberikan pendidikan) kepada sahabatnya tentang tauhid ini semenjak mereka kecil, sebagaimana perkataan beliau terhadap ibnu Abbas</p>
<p>&#8220;Apabila Engkau memohon maka mohonlah kepada Allah dan apabila engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah .&#8221; ( HR. Tirmidzi )</p>
<p>Tauhid inilah hakikat dari agama Islam yang dibangun diatasnya bangunan Islam yang lain.</p>
<p>Rasul mengajarkan para sahabat agar memulai dakwahnya dengan tauhid, beliau bersabda kepada Muadz bin Jabal yang diutus ke Yaman :<br />
&#8221; Jadikanlah awal yang kamu seru adalah syahadat Laa ilaaha illallah, pada riwayat yang lain agar mereka mentauhidkan Allah&#8221; ( Muttafaq Alaih)</p>
<p>Tauhid adalah perwujudan dari syahadat Laa ilaaha illallah dan Muhammad Rasulullah yang maknanya tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan tidak beribadah kecuali dengan syariat yang dibawa oleh Rasulullah. Syahadat inilah yang memasukkan seseorang kepada Islam, ia juga kunci Surga, yang seorang akan masuk surga bila mengucapkannya selama tidak beraktivitas yang membatalkan Syahadat tersebut.<br />
Kafir Qurays menawari Rasulullah dengan kekuasaan, harta, wanita dan materi dunia yang lain agar rasul meninggalkan dakwah Tauhid ini. Rasul menolak tawaran tersebut dan terus menggencarkan aktivitas dakwahnya walau menanggung beragam ujian dan cobaan. Hingga berlalu 13 tahun dan setelah itu mekah ditakhlukkan, dihancurkan berhala yang disembah oleh orang kafir Quraisy. Firman ALLAH yang artinya : &#8220;Telah datang kebenaran dan hancur kebatilan sesungguhnya kebatilan itu pasti akan hancur &#8221; (QS Al Isra&#8217;).</p>
<p>Tauhid adalah kewajiban tugas seorang muslim, dengannya dimulai dan diakhiri kehidupannya. Dan tugas dalam kehidupannya adalah menegakkan Tauhid, berdakwah kepada tauhid. Tauhid pula lah yang menyatukan hati-hati orang-orang yang beriman , dan kita mohon kepada Allah agar menjadikan kalimat Tauhid sebagai akhir kehidupan kita.</p>
<p>
Dari berbagai sumber</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/kedudukan-tauhid-dalam-islam-dan-urgensinya/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Iman bisa meningkat dan bisa turun</title>
		<link>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/iman-bisa-meningkat-dan-bisa-turun/</link>
		<comments>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/iman-bisa-meningkat-dan-bisa-turun/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Mar 2009 00:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rismaka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/iman-bisa-meningkat-dan-bisa-turun/</guid>
		<description><![CDATA[Ketahuilah, iman yang ada di dalam diri seorang hamba itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang atau bahkan hilang tanpa bekas dari diri seseorang. Al-Imam Abdurrahman bin Amr Al-Auza&#8217;i rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan, apakah bisa bertambah. Beliau menjawab: &#8220;Betul (bertambah), sampai seperti gunung.&#8221; Lalu beliau ditanya lagi: &#8220;Apakah bisa berkurang?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Ya, sampai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketahuilah, iman yang ada di dalam diri seorang hamba itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang atau bahkan hilang tanpa bekas dari diri seseorang. Al-Imam Abdurrahman bin Amr Al-Auza&#8217;i rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan, apakah bisa bertambah. Beliau menjawab: &#8220;Betul (bertambah), sampai seperti gunung.&#8221; Lalu beliau ditanya lagi: &#8220;Apakah bisa berkurang?&#8221; Beliau menjawab: &#8220;Ya, sampai tidak tersisa sedikitpun.&#8221;</p>
<p><span id="more-4"></span>
<p>Demikian pula Imam Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah, Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan, apakah bisa bertambah dan berkurang? Beliau menjawab: &#8220;Iman bertambah sampai puncak langit yang tujuh dan berkurang sampai kerak bumi yang tujuh.&#8221; Beliau juga menyatakan: &#8220;Iman itu (terdiri atas) ucapan dan amalan, bisa bertambah dan berkurang. Apabila engkau mengamalkan kebajikan, maka iman akan bertambah, dan apabila engkau menyia-nyiakannya, maka iman pun akan berkurang.&#8221;</p>
<p>Nah, inilah aqidah Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah itu, yakni meyakini bahwa sesungguhnya iman seseorang itu bisa bertambah dan bisa pula berkurang. Setelah kita tahu bahwa ternyata iman itu bisa bertambah dan bisa berkurang, lalu apa yang harus dilakukan oleh seorang mukmin untuk menjaga kualitas imannya? Al Imam Allamah Abdurrahman bin Nashr As Sa&#8217;di rahimahullah mengatakan: &#8220;Seorang mukmin yang diberi taufiq oleh Allah Ta&#8217;ala, dia senantiasa berusaha melakukan dua hal: Pertama, memurnikan keimanan dan cabang-cabangnya, dengan cara mengilmui dan mengamalkannya. Kedua, berusaha untuk menolak atau membentengi diri dari bentuk-bentuk ujian (cobaan) yang tampak maupun tersembunyi yang dapat menafikannya (menghilangkannya), membatalkannya atau mengikis keimanannya itu.&#8221; (At Taudhih wal Bayan lisy Syajarotil Iman, hal 38).</p>
<p>Saudaraku muslimin, ketahuilah! Ada beberapa amalan yang insya Allah akan dapat menyebabkan bertambahnya iman seseorang, di antaranya adalah:</p>
<p>Pertama: Membaca dan tadabbur (merenungkan atau memikirkan isi kandungan) Al Quranul Karim. Orang yang membaca, mentadabburi dan memperhatikan isi kandungan Al Quran akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menjadikan imannya kuat dan bertambah.</p>
<p>Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala mengabarkan tentang orang-orang mukmin yang berbuat demikian: &#8220;Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati-hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman bereka, dan kepada Rabb mereka itulah mereka bertawakkal.&#8221; (QS. Al Anfal [8]: 2)</p>
<p>Al Imam Al Ajurri rahimahullah berkata: &#8220;Barangsiapa mentadabburi Al Quran, dia akan mengenal Rabb-nya Azza wa Jalla dan mengetahui keagungan, kekuasaan dan qudrah-Nya serta ibadah yang diwajibkan atasnya. Maka dia senantiasa melakukan setiap kewajiban dan menjauhi segala sesuatu yang tidak disukai maulanya (yakni Allah Ta&#8217;ala).&#8221;</p>
<p>Kedua: Mengenal Al Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yang terdapat dalam Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan kesempurnaan Allah secara mutlak dari berbagai segi. Bila seorang hamba mengenal Rabbnya dengan pengetahuan yang hakiki, kemudian selamat dari jalan orang-orang yang menyimpang, sungguh ia telah diberi taufiq dalam mendapatkan tambahan iman. Karena seorang hamba bila mengenal Allah dengan jalan yang benar, dia termasuk orang yang paling kuat imannya dan ketaatannya, kuat takutnya dan muroqobahnya kepada Allah Ta&#8217;ala.</p>
<p>Allah Ta&#8217;ala berfirman: &#8220;Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-Nya adalah ulama.&#8221; (QS. Fathir [35]: 28). Al Imam Ibnu Katsir menjelaskan: &#8220;Sesungguhnya hamba yang benar-benar takut kepada Allah adalah ulama yang mengenal Allah.&#8221; (Tafsir Ibnu Katsir 3/533).</p>
<p>Ketiga: Memperhatikan siroh atau perjalanan hidup Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, yakni dengan mengamati, memperhatikan dan mempelajari siroh beliau dan sifat-sifatnya yang baik serta perangainya yang mulia.</p>
<p>Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah menjelaskan: &#8220;Dari sini kalian mengetahui sangat pentingnya hamba untuk mengenal Rasul dan apa yang dibawanya, dan membenarkan pada apa yang beliau kabarkan serta mentaati apa yang beliau perintahkan. Karena tidak ada jalan kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan di akhirat kecuali dengan tuntunannya. Tidak ada jalan untuk mengetahui baik dan buruk secara mendetail kecuali darinya.Maka kalau seseorang memperhatikan sifat dan akhlak Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dalam Al Quran dan Al Hadits, niscaya dia akan mendapatkan manfaat dengannya, yakni ketaatannya kepada Nabi shallallahu &#8216;alaihi wa sallam menjadi kuat, dan bertambah cintanya kepada beliau. Itu adalah tanda bertambahnya keimanan yang mewariskan mutaba&#8217;ah dan amalan sholih.&#8221;</p>
<p>Keempat: Mempraktekkan (mengamalkan) kebaikan-kebaikan agama Islam. Ketahuilah, sesungguhnya ajaran Islam itu semuanya baik, paling benar aqidahnya, paling terpuji akhlaknya, paling adil hukum-hukumnya. Dari pandangan inilah Allah menghiasi keimanan di hati seorang hamba dan membuatnya cinta kepada keimanan, sebagaimana Allah memenuhi cinta-Nya kepada pilihan-Nya, yakni Nabiyullah Muhammad shallallahu &#8216;alaihi wa sallam (lihat QS. Al Hujurat [49]: 7)</p>
<p>Maka iman di hati seorang hamba adalah sesuatu yang sangat dicintai dan yang paling indah. Oleh karena itu seorang hamba akan merasakan manisnya iman yang ada di hatinya, sehingga dia akan menghiasi hatinya dengan pokok-pokok dan hakikat-hakikat keimanan, dan menghiasi anggota badannya dengan amal-amal nyata (amal sholih). (At Taudhih wal Bayan, hal 32-33)</p>
<p>Kelima: Membaca siroh atau perjalanan hidup Salafush Shalih. Yang dimaksud Salafush Shalih di sini adalah para shahabat Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dan orang-orangyang mengikuti mereka dengan baik (lihat QS. At Taubah [9]: 100). Barangsiapa membaca dan memperhatikan perjalanan hidup mereka, akan mengetahui kebaikan-kebaikan mereka, akhlak-akhlak yang agung, ittiba&#8217; mereka kepada Allah, perhatian mereka kepada iman, rasa takut mereka dari dosa, kemaksiatan, riya&#8217; dan nifaq, juga ketaatan mereka dan bersegera dalam kebaikan, kekuatan iman mereka dan kuatnya ibadah mereka kepada Allah dan sebagainya.</p>
<p>Dengan memperhatikan keadaan mereka, maka iman menjadi kuat dan timbul keinginan untuk menyerupai mereka dalam segala hal. Sebagaimana ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah : &#8220;Barangsiapa lebih serupa dengan mereka (para shahabat Rasulullah), maka dia lebih sempurna imannya.&#8221; (lihat Kitab Al Ubudiyah, hal 94). Dan tentunya, barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.</p>
<p>Itulah beberapa amalan yang insya Allah akan dapat menyebabkan bertambahnya keimanan. Adapun hal-hal yang dapat melemahkan iman seseorang adalah sebaliknya, di antaranya: Kebodohan terhadap syari&#8217;at Islam, lalai, lupa dan berpaling dari ketaatan, melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa besar, mengikuti hawa nafsu dan sebagainya.</p>
<p>Mudah-mudahan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa diberi tambahan iman, dan dijauhkan dari kelemahan dan kehinaan. Wallahul musta&#8217;an.</p>
<p>(Dinukil dan disarikan dari Majalah Salafy, edisi XVIII/Shafar/1418/1997 oleh Abu Abdillah Ibnu Zuhri)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/iman-bisa-meningkat-dan-bisa-turun/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kedudukan Akal Didalam Islam &#38; Tokoh Rasionalis</title>
		<link>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/kedudukan-akal-didalam-islam-tokoh-rasionalis/</link>
		<comments>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/kedudukan-akal-didalam-islam-tokoh-rasionalis/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 23:04:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rismaka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/kedudukan-akal-didalam-islam-tokoh-rasionalis/</guid>
		<description><![CDATA[A. Beberapa atsar para Shahabat r.a. tentang pengutamaan nash (dalil) diatas rasio.
1. Dari Ali bin Abi Thalib r.a., dia berkata :
“Andaikata agama itu cukup dengan ra’yu (akal), maka bagian bawah khuf (alas kaki) lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya. Aku benar-benar melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengusap bagian atas khuf-nya.”
(HR. Abu Daud dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>A. Beberapa atsar para Shahabat r.a. tentang pengutamaan nash (dalil) diatas rasio.</p>
<p>1. Dari Ali bin Abi Thalib r.a., dia berkata :<br />
“Andaikata agama itu cukup dengan ra’yu (akal), maka bagian bawah khuf (alas kaki) lebih utama untuk diusap daripada bagian atasnya. Aku benar-benar melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengusap bagian atas khuf-nya.”<br />
(HR. Abu Daud dengan sanad yang baik. Dalam Al-Talkhishul Habir, 1/160 Al-Hafidh Ibnu Hajar Al-Atsqalani berkata hadits ini shahih, dan juga telah disepakati Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani di dalam Shahihul Abu Daud, 1/33)</p>
<p><span id="more-7"></span>
<p>2. Dari Umar bi Al-Khaththab r.a., dia berkata tatkala mencium Hajar Aswad:<br />
”Sesungguhnya aku tahu engkau hanya sekedar batu yang tidak bisa memberi madharat dan manfaat. Kalau tidak karena kulihat Rasulullah menciummu, tentu aku tidak akan menciummu.”(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>3. Dari Ibnu Umar r.a., dia berkata :<br />
“Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah kalian mencegah istri-istrimu (untuk mendatangi) masjid-masjid jika mereka meminta izin kepada kalian.”<br />
Salim bin Abdullah berkata, “Lalu Bilal bin Abdullah berkata, ‘Demi Allah, kami akan mencegah mereka’.”<br />
Salim berkata, “Lalu Ibnu Umar menghampiri Abdullah dan mengolok-oloknya dengan olok-olokan yang amat buruk, yang tidak pernah kudengar sebelumnya seperti itu. Dia berkata, “Aku mengabarkan kepadamu dari Rasulullah, lalu engkau berkata,’Demi Allah, aku benar-benar akan mencegahnya ?’.”(HR. Muslim)</p>
<p>4. Dari Imran bin Hushain r.a., dia berkata :<br />
“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Malu itu adalah kebaikan seluruhnya.”<br />
Lalu Busyair bin Ka’ab berkata, “Sesungguhnya di dalam sabda beliau ini terdapat kelemahan.”<br />
Lalu Imran berkata, “Aku memberitahukan dari Rasulullah, lalu engkau datang untuk menentang ? Aku tidak akan memberitahukan satu hadits pun yang kuketahui.”(HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>5. Dari Urwah bin Az-Zubair, bahwa dia berkata kepada Ibnu Abbas r.a.:<br />
“Engkau telah menyesatkan manusia.”“Apa itu wahai Urayyah ?”, tanya Ibnu Abbas.Urwah menjawab, “Engkau memerintahkan umrah pada sepuluh hari itu, padahal hari-hari itu tidak ada umrah.”Ibnu Abbas bertanya, “Apakah engkau tidak bertanya mengenai masalah ini kepada ibumu ?”Urwah menjawab, “Sesungguhnya Abu Bakar dan Umar tidak pernah melakukan hal itu.”Ibnu Abbas berkata, “Inilah yang membuat kalian rusak. Demi Allah, aku tidak melihat melainkan hal ini akan membuat kalian tersiksa. Sesungguhnya aku beritahukan kepada kalian dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namun kalian menjawab dengan diri Abu Bakar dan Umar.”(HR Imam Ahmad dan Al-Khathib serta lainnya dengan sanad yang shahih)</p>
<p>Ibnul Qayyim berkata, “Semoga Allah merahmati Ibnu Abbas. Bagaimana andaikata dia tahu sekian banyak orang yang menentang firman Allah dan sabda Rasul-Nya dengan menggunakan perkataan Aristoteles, Plato, Ibnu Sina, Al-Faraby, Jahm bin Shafwan, Bisyr Al-Maraisy, Abul Huzail Al-Allaf, dan orang-orang yang sealiran dengan mereka ?”</p>
<p>Dapat kami katakan (Syaikh Ali Hasan), “Semoga Allah merahmati Ibnul Qayyim. Bagaimana jika dia tahu ada orang-orang rasionalis abad ke dua puluh, yang menentang Sunnah hanya dengan menggunakan rasionya yang serba terbatas, dengan gambaran-gambaran yang rusak dan dengan pendapat yang hina ?”</p>
<p>B. Golongan Rasionalis Masa Kini</p>
<p>1. Salah seorang diantara mereka berkata, “Para pemeluk Islam telah sepakat &#8211;kecuali sebagian kecil di antara mereka yang tidak perlu digubris—bahwa jika aqly dan naqly saling bertentangan, maka apa yang ditunjukkan oleh aqly harus diambil.”<br />
(Yang dimaksudkan adalah Muhammad Abduh dalam tulisannya, Al-Islam Wan-Nashraniyyah, hal. 59. Padahal dalam buku Risalatut-Tauhid dia berkata bahwa rasio saja tidak bisa sampai kepada kebahagiaan ummat, jika tidak disertai petunjuk ilahi)</p>
<p>2. Seorang jurnalis yang juga menganggap dirinya sebagai pemikir ulung yang bernama Fahmy Huwaidy berkata di dalam sebuah artikelnya yang berjudul Watsaniyyun Hum Abadatun-Nushush, “Orang-orang paganis adalah para penyembah nash, menguraikan upaya peniadaan rasio di hadapan nash, bahwa hal ini merupakan gambaran paganisme modern. Sebab yang disebut paganis itu tidak hanya orang-orang yang menyembah berhala. Tetapi paganisme pada zaman sekarang berubah menjadi penyembah terhadap simbol-simbol yang tertuang dalam tulisan dan upacara keagamaan.”</p>
<p>3. Seorang tokoh sekolah Al-Azhar Mesir, Muhammad Al-Ghazaly berkata di dalam bukunya yang sangat zhalim terhadap ilmu dan ilmuwan, As-Sunnah baina Fiqhi wa Ahlil-Hadits, “Kita harus tahu bahwa kebatilan yang ditetapkan rasio mustahil merupakan agama. Agama yang benar adalah yang berunsur kemanusiaan yang benar. Unsur kemanusiaan yang benar adalah rasio yang bisa menetapkan hakikat, yang bisa jelas karena ilmu, yang memburukkan khurafat dan yang dijauhkan dari dugaan. Kami senantiasa menegaskan bahwa setiap hukum yang ditentang rasio, setiap jalan yang tidak dikehendaki kemanusiaan yang benar dan sejalan dengan fitrah yang lurus, mustahil merupakan agama.”<br />
Maka dari itu kita melihat Muhammad Al-Ghazali secara berani menolak sekian banyak hadits Nabawi yang shahih dan kuat, hanya karena hadits-hadits tersebut dianggap menunggangi rasionya.<br />
(Silahkan baca kitab Kasyfu Mauqifi Al-Ghazaly Minas-Sunnah wa Ahliha wa naqdu Ba’dhi Ara’ihi, karya DR. Rabi’ bin Hadi Al-Madkhaly yang sudah diterjemahkan dengan judul Membela Sunnah Nabawy, jawaban terhadap buku Studi Kritis atas Hadits Nabi, karya Muhammad Al-Ghazaly, anda akan mendapatkan di dalamnya bagaimana ia menolak hadits-hadits shahih yang tidak dapat diterima oleh akalnya walau tercantum dalam kitab Shahih Bukhari dan Muslim. Serta setiap syubhat yang dilontarkannya dijawab secara ilmiyah oleh Syaikh DR. Rabi bin Hadi Al-Madkhaly –hafidhahullah)</p>
<p>4. Muhammad Ahmad Khalafullah berkata di dalam bukunya, Ghazwun Minad-Dakhil, hal. 51, “Islam telah membebaskan rasio manusia untuk menguasai nubuwah, dengan mengumumkan penghabisan masa nubuwah secara total dan sekaligus kebebasan manusia dari nubuwah.&#8221;</p>
<p>5. Husain Ahmad Amin yang merupakan penerus langkah bapaknya, berkata, “Menyerap ruh Islam, dan bukan komitmen terhadap hukum-hukum tertentu, cukup dijadikan tameng yang bisa membawa kita ke jalan yang lurus. Masyarakat yang ada sekarang mendapatkan hukuman pidana pencurian tidak seperti hukuman di masyarakat badui. Begitu pula masalah hijab yang pernah di wajibkan di Madinah. Hukuman potong tangan yang ditetapkan Al-Qur’an sebagai hukuman bagi pencuri adalah syariat masyarakat badui. Hijab lebih tepat untuk masyarakat Madinah Al-Munawwarah, dan tidak tepat untuk masyarakat Cairo pada abad ke dua puluh.”</p>
<p>6. Diantara pendukung paham rasionalis ini adalah seorang Doktor dalam bidang Hukum, Hasan At-Turaby, yang saat ini namanya cukup berkibar karena hubungan dekatnya dengan pemerintah Sudan. Dia berkata dalam bukunya Tajdidul-Fikri-Islamy, hal. 26, “Sumber yang perlu kami tegaskan sekali lagi sebagai dasar adalah rasio.”<br />
Perhatikan pula masalah besar yang dimuntahkan At-Turaby, dalam suatu ceramah yang disampaikannya dengan judul Tahkimusy-Syari’ah, yang secara lancang dia membolehkan kemurtadan dari Islam, “Saya ingin mengatakan, bahwa dalam suatu pemerintahan dan pada satu zaman, orang Muslim boleh mengganti agamanya, sebagaimana yang dilakukan orang Nashrani.”<br />
Yang menguatkan kedok dirinya dan menambah kejelasan jati dirinya ini adalah penjelasan Muhammad Surur Zainul Arifin, dalam bukunya, Dirasat Fis-Sirah An-Nabawiyah, hal. 308, mengisahkan pengalaman pribadi yang dialaminya bersama At-Turaby. Dia berkata, “Dosen dalam bidang hukum di Universitas Sudan, DR. Hasan Abdullah At-Turaby ini mengingkari turunnya Isa Al-Masih pada akhir zaman. Dalam suatu pertemuan pada sebelas tahun yang lalu, saya bertanya kepadanya, “Mengapa engkau mengingkari hadits yang mutawatir ?”<br />
Dia menjawab, “Saya tidak mengingkari hadits dari segi sanadnya. Tetapi saya melihat hadits tersebut bertentangan dengan rasio. Padahal rasio harus didahulukan daripada nash jika terjadi pertentangan.”</p>
<p>7. Yusuf Al-Qardhawi<br />
Beliau berbeda dengan Muhammad Al-Ghazaly yang frontal (beliau menolak hadits dengan susunan bahasa yang lebih halus dan tidak keras), sekalipun hadits-hadits yang dibicarakan Al-Qardhawy adalah hadits yang sama dengan yang ditolak Muhammad Al-Ghazaly berdasarkan rasionya yang sempit. Hadits yang secara terang-terangan ditolak Muhammad Al-Ghazaly, biasanya Al-Qardhawy cukup berkata, “Saya masih bimbang tentang hadits yang dimaksud.” Baru kemudian ia menyebutkannya.<br />
Paham rasionalisme ini tampak dalam buku karangannya yang terakhir, Kaifa Nata’amalu Ma’as Sunnah An-Nabawiyyah.<br />
Diantaranya adalah kebimbangannya tentang keabsahan hadits yang diriwayatkan di dalam shahih Muslim, dari Anas, sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang laki-laki, “Sesungguhnya bapakku dan bapakmu berada di dalam neraka.”<br />
Kadang-kadang Al-Qardhawy beralih kepada takwil yang bertentangan dengan zahir nash, seperti sikapnya dalam menghadapi hadits, “Kematian di datangkan dalam bentuk domba berwarna hitam bercampur putih.”(Muttafaq Alaihi)</p>
<p>Maka tidak heran jika engkau melihat kebebasan pemikiran mereka, yang menganggap Islam itu bukan satu-satunya agama Allah. Berarti mencari agama selain Islam bukan merupakan kesesatan dan kekufuran. Bahkan mencari agama Nashrani dan Yahudi bisa membawa pelakunya ke surga dan bahkan bisa ke Firdaus, surga yang paling tinggi, seperti pendapat Muhammad Ammarah, Fahmy Huwaidy, Abdul Aziz Kamil, Sa’id Al-Asymawy, Mahmud Abu Rayyah dan lain-lainnya. ( Al-Aqlaniyyah, Hidayah Am Ghiwayah, hal. 46)</p>
<p>Wallaahu a’lam bishshawab.</p>
<p>(Diringkas dari kitab “Muslim Rasionalis” (Aqlaniyyun), karya Syaikh Ali Hasan bin Ali Abdul Hamid Al-Atsary – hafidhahullah)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/kedudukan-akal-didalam-islam-tokoh-rasionalis/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Islam sebagai Rahmat untuk Seluruh Alam</title>
		<link>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/islam-sebagai-rahmat-untuk-seluruh-alam/</link>
		<comments>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/islam-sebagai-rahmat-untuk-seluruh-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 22:03:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rismaka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/islam-sebagai-rahmat-untuk-seluruh-alam/</guid>
		<description><![CDATA[Kalimat &#8220;negara Islam&#8221; telah menjadi momok yang menakutkan, terutama sejak dipaksakannya rekayasa sejarah yang mendiskreditkan Islam dan gerakan Islam. Digambarkan betapa seramnya hukum Islam jika diterapkan, betapa sadisnya hukum rajam dan potong tangan dan seterusnya.
Ditambah lagi dengan gerakan-gerakan bid&#8217;ah yang berjihad tanpa ilmu, yang menambah rusaknya gambaran Islam di mata awam. Yang akibatnya orang awam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kalimat &#8220;negara Islam&#8221; telah menjadi momok yang menakutkan, terutama sejak dipaksakannya rekayasa sejarah yang mendiskreditkan Islam dan gerakan Islam. Digambarkan betapa seramnya hukum Islam jika diterapkan, betapa sadisnya hukum rajam dan potong tangan dan seterusnya.</p>
<p>Ditambah lagi dengan gerakan-gerakan bid&#8217;ah yang berjihad tanpa ilmu, yang menambah rusaknya gambaran Islam di mata awam. Yang akibatnya orang awam dan non-Islam mengira gerakan jihad identik dengan terorisme, perampokan, penjarahan, dan seterusnya.</p>
<p><span id="more-6"></span>
<p>Akhirnya Islampobia menjalar di masyarakat, bahkan orang-orang yang berstatus Muslim pun takut kalau hukum Islam diterapkan di Indonesia Raya ini. Padahal kalau mereka mau melihat Islam dari sumbernya yang asli dari Qur&#8217;an dan Sunnah, dengan pemahaman generasi-generasi terbaik yang dipuji Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan dapati Islam adalah rahmat dan kasih sayang untuk seluruh alam.</p>
<p>Allah ciptakan syariat ini dan Allah utus Rasul-Nya adalah sebagai bukti kasih sayang-Nnya kepada seluruh manusia. Allah berfirman: &#8220;Tidaklah Kami mengutus engkau kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam.&#8221; (Al-Anbiya: 107)</p>
<p>Ibnu Abbas radliyallahu `anhu berkata tentang ayat ini: &#8220;Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka Allah tuliskan baginya rahmat di dunia dan akhirat. Adapun orang yang tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka pun mendapat rahmat dengan datangnya Rasul yaitu keselamatan dari adzab</p>
<p>di dunia, seperti ditenggelamkannya ke dalam bumi atau dihujani dengan batu.&#8221; (Tafsir Ibnu Katsir 3/222)</p>
<p>Oleh karena itu ketika malaikat Jibril datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam keadaan beliau terusir dari kaumnya, dilempari dengan batu di Thaif hingga berdarah kakinya, duduk di luar kota tanpa kawan, bermunajat kepada Allah. Malaikat itu berkata: &#8220;Aku diutus Allah untuk mentaati perintah-Mu. Jika engkau menginginkan agar aku menimpakan gunung ini kepada mereka aku akan laksanakan.&#8221; Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Ya Allah, berilah hidayah pada mereka karena sesungguhnya mereka belum mengetahui.&#8221; Melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berdoa seperti itu, Jibril mengatakan: &#8220;Maha benar Allah yang menamakanmu ra&#8217;ufur rahim.&#8221; (lihat Nurul Yaqin hal. 56)</p>
<p>Inilah bukti kasih sayang beliau kepada seluruh manusia. Jika beliau diberi pilihan doa yang maqbul terhadap kaumnya apakah dilaknat dan diadzab ataukah diberi hidayah, tentu beliau memilih berdoa agar Allah memberikan hidayah.</p>
<p>Pernah suatu hari beliau didatangi oleh Thufail Ad-Dausi. Dia berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, sesungguhnya kabilah Daus menentang dan menolak dakwah ini. Maka doakanlah agar Allah menghancurkan mereka.&#8221; Maka Rasulullah pun menghadap kiblat dan mengangkat kedua tangannya. Para shahabat yang ada di situ berucap: &#8220;Binasalah Daus!&#8221; Ternyata Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mengucapkan doa: &#8220;Ya Allah, berilah hidayah pada suku Daus dan bawalah mereka kemari&#8221; (beliau mengucapkannya tiga kali). (HR. Bukhari dan Muslim).<br />
Doa beliau ternyata maqbul. Suku Daus datang berbondong-bondong kepada Nabi untuk masuk Islam.<br />
Demikian pula diriwayatkan dari Muslim dengan sanadnya kepada Abu Hurairah radliyallahu `anhu bahwa dia berkata: Pernah dikatakan kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam: &#8220;Wahai Rasulullah, doakanlah kejelekan bagi musyrikin.&#8221; Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menjawab:<br />
&#8220;Aku tidak diutus sebagai tukang laknat, melainkan aku diutus sebagai rahmat.&#8221; (HR. Muslim).</p>
<p>Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Hanya saja aku diutus sebagai rahmat yang diberikan.&#8221; (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3 / 222).<br />
Maka Islam adalah agama kasih sayang, dibawa oleh seorang penyayang dari Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.</p>
<p>Negara Islam Mengapa Takut?<br />
Kalau demikian kenyataannya mengapa kita mesti takut terhadap munculnya negara Islam, negara yang mengayomi rakyat semesta dan membawa bangsa kepada kemakmuran yang hakiki, yang memberi kesempatan kepada rakyat non Islam untuk menjalankan agamanya sambil melihat kesempurnaan syariat Islam sehingga suatu saat mereka akan masuk Islam tanpa paksaan. Dan ini berarti rahmat yang lebih sempurna lagi bagi mereka.</p>
<p>Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam melarang kaum Muslimin untuk mengganggu orang-orang non-Islam yang hidup sebagai kafir dzimmni. Yaitu orang kafir yang termasuk warga negara Islam yang dilindungi selama mereka mentaati peraturan-peraturan negara dan membayar jizyah (semacam upeti atau pajak). Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya Allah tidak mengijinkan kalian untuk masuk ke rumah orang-orang ahli kitab kecuali dengan seijin mereka, tidak boleh memukul mereka dan mengambil buah-buahan mereka selama mereka memberikan kepada kalian kewajiban mereka.&#8221; (HR. Abu Dawud).</p>
<p>Demikianlah warga negara non-Islam diberikan hak-haknya dan dijaga hartanya, tidak boleh dirampas hartanya atau dibunuh jiwanya dengan dhalim selama mereka mentaati peraturan-peraturan negara Islam, walaupun kita sama-sama tahu bahwa kedudukan mereka lebih rendah dari kaum Muslimin, sebagaimana ucapan Umar bin Khattab radliyallahu `anhu: &#8220;Rendahkanlah mereka tapi jangan dhalimi mereka.&#8221; (Fatawa 28 / 653)</p>
<p>Demikian pula orang-orang non-Muslim yang bukan warga negara tetapi terikat perjanjian damai. Seperti para pendatang dari negara asing yang tidak dalam keadaan berperang (dengan Muslim) atau dalam kata lain terikat perjanjian damai. Maka kita tidak boleh mengganggu, apalagi membunuh mereka selama mereka mengikuti peraturan-peraturan negara Islam. Demikian pula duta-duta asing yang tinggal di negara Islam. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam mengancam orang-orang yang mengganggu atau mendhalimi mereka. Mereka ini distilahkan dengan kafir mu&#8217;ahhad (yaitu terikat perjanjian):</p>
<p>&#8220;Ketahuilah barang siapa mendhalimi seorang mu&#8217;ahad; atau mengurangi hak-haknya; atau membebaninya di luar kemampuannya; atau mengambil sesuatu daripadanya tanpa keridlaannya. Maka aku akan menjadi penentangnya pada hari kiamat.&#8221; (HR. Abu Dawud dan Baihaqi. Lihat Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani 1 / 807).</p>
<p>Apalagi membunuh seorang mu`ahad, Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam lebih keras lagi mengancamnya: &#8220;Barangsiapa membunuh seorang mu&#8217;ahad, maka ia tidak akan mencium bau surga, padahal harumnya surga didapati dari jarak 40 tahun perjalanan.&#8221; (HR. Bukhari).</p>
<p>Oleh karena itu para duta-duta asing atau tamu-tamu asing yang non-Muslim tidak perlu khawatir masuk negara Islam dan tidak perlu takut berdirinya negara Islam di bumi persada Indonesia ini karena Islam merupakan rahmat untuk seluruh manusia.</p>
<p>Bahkan kalau pendatang non-Muslim itu merupakan utusan, walaupun utusan itu dari negara kafir yang sedang berperang dengan negara Islam sekali pun, mereka tidak perlu takut karena Islam dengan rahmatnya tidak membolehkan menangkap, menahan atau membunuh para utusan (yang diistilahkan dalam syari&#8217;at dengan wufud).</p>
<p>Pernah suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam didatangi dua orang utusan dari Musailamah al-kadzab, seorang nabi palsu yang memusuhi Rasulullah. Kemudian Beliau bersabda: &#8220;Apakah kalian mau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?&#8221; Mereka berkata: &#8220;Kami bersaksi bahwa Musailamah adalah Rasulullah.&#8221; maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun bersabda: &#8220;Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya! Kalau saja aku membolehkan untuk membunuh seorang utusan tentu akan aku bunuh kalian berdua!&#8221;</p>
<p>Bahkan walaupun utusan kafir tersebut kemudian masuk Islam, Rasulullah tetap memerintahkannya untuk kembali kepada kaum yang mengutusnya sebagaimana diriwayatkan dari Abu Rafi&#8217; sebagai berikut: Aku diutus oleh orang-orang kafir Quraisy menemui Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Ketika aku melihat beliau, masuklah Islam ke dalam hatiku. Maka aku mengatakan kepada beliau: &#8220;Wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak akan kembali kepada mereka selama-lamanya.&#8221;</p>
<p>Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Sesungguhnya aku tidak akan melanggar perjanjian dan tidak akan menahan para utusan. Maka kembalilah engkau! Kalau pada dirimu tetap ada keimanan seperti sekarang ini maka kembalilah engkau kemari.&#8221; (HR. Abu Dawud, An-Nasa&#8217;i, Ibnu Hibban, Al-Hakim dan Ahmad. lihat Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani 6 / 316).</p>
<p>Dalam riwayat lain dikatakan: &#8220;Sesungguhnya aku tidak melanggar janji dan tidak akan menangkap seorang utusan.&#8221; (HR. Abu Dawud dan Nasa&#8217;i)</p>
<p>Inilah Islam, inilah keadilan. Tidak akan didapati kebijaksanaan yang seperti ini dalam agama lain. Hanya saja orang-orang bodoh dan para ahli bid&#8217;ah merusak gambaran yang indah ini dengan melanggarnya, atau dengan mengada-adakan aturan-aturan baru (bid&#8217;ah) dan kebijaksanaan-kebijaksanaan sendiri yang mereka anggap baik dengan emosi dan hawa nafsunya. Yang akhirnya justru merusak gambaran Islam dan membuat manusia takut kepadanya.<br />
Rahmat Islam dalam Perang<br />
Demikian pula dalam peperangan, Agama Islam tidak lepas dari sifatnya sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan peraturan-peraturan dan hukum-hukum perang. Siapa yang boleh dibunuh dan siapa yang tidak. Bolehkah merusak jasad musuh atau tidak, dan seterusnya. Setiap melepas suatu pasukan untuk berperang Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam selalu memberikan wasiat kepada mereka, yang berisi nasihat dan peraturan peperangan. Di dalamnya kita akan dapati rahmat dan kasih sayang. Simaklah wasiat beliau berikut ini:</p>
<p>Diriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya dari Aisyah radliyallahu `anha, ia berkata: Bahwasanya Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam jika mengutus seseorang komandan yang membawa sebuah pasukan &#8211;besar atau kecil&#8211; beliau mewasiatkan kepada pribadinya untuk bertakwa kepada Allah dan mewasiatkan untuk kaum muslimin dengan kebaikan.</p>
<p>Kemudian bersabda: &#8220;Berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah! Perangilah orang yang kafir kepada Allah. Berperanglah tapi jangan mencuri rampasan perang, jangan ingkar janji, jangan merusak jasad musuh, jangan membunuh anak-anak. Jika kalian menemui musuhmu dari kalangan musyrikin, maka ajaklah mereka kepada tiga perkara. Jika mereka menerima salah satunya, maka terimalah dan berhentilah (tidakmemerangi): Ajaklah kepada Islam. Kalau mereka mengikuti ajakanmu, maka terimalah dari mereka dan tahanlah peperangan. Ajaklah kepada Islam. Kalau mereka menyambut ajakanmu, maka terimalah dan ajaklah untuk pindah (hijrah) dari desa mereka ke tempat muhajirin (Madinah).</p>
<p>Kalau mereka menolak, maka sampaikanlah kepada mereka bahwa mereka dianggap sebagai orang-orang arab gunung (nomaden) yang Muslim. Tidak ada bagi mereka bagian ghanimah (pampasan perang) sedikit pun kecuali jika mereka berjihad bersama kaum muslimin. Kalau mereka menolak (untuk masuk Islam) maka mintalah dari mereka untuk membayar jizyah (upeti) (sebagai orang-orang kafir yang dilindungi). Kalau mereka menolak, maka minta tolonglah kepada Allah untuk menghadapi mereka kemudian perangilah.</p>
<p>Jika engkau mengepung penduduk suatu benteng, kemudian mereka menyerah ingin meminta jaminan Allah dan Rasul-Nya, maka janganlah kau lakukan. Tetapi jadikanlah untuk mereka jaminanmu, karena jika kalian melanggar jaminan-jaminan kalian itu lebih ringan daripada kalian menyelisihi jaminan Allah. Dan jika mereka menginginkan engkau untuk mendudukkan mereka di atas hukum Allah, maka jangan kau lakukan. Tetapi dudukkanlah mereka di atas hukummu karena engkau tidak tahu apakah engkau menepati hukum Allah pada mereka atau tidak.&#8221; (HR. Muslim dalam Kitabul Jihad bab Ta&#8217;mirul Imam no. 1731)</p>
<p>Di awal wasiatnya Beliau memperingatkan untuk jangan mencuri, jangan ingkar janji, jangan merusak jasad musuh, jangan membunuh anak-anak, dan seterusnya. Sebuah nasihat yang merupakan kasih sayang Islam kepada seluruh manusia walaupun terhadap orang kafir.</p>
<p>Kemudian Beliau menganjurkan untuk memberikan pilihan kepada musuh. Apakah mereka akan masuk Islam atau membayar jizyah yang berarti mereka akan selamat; atau tidak mau memilih keduanya yang berarti perang. Ini merupakan kasih sayang yang sangat besar, memberikan kesempatan kepada musuh untuk selamat dunia dan akhirat. Kalau mereka memilih Islam berarti mereka selamat di dunia dan di akhirat. kalau memilih jizyah berarti selamat di dunia. Sedangkan kalau mereka tidak ingin selamat, maka barulah mereka diperangi. Pantaskan?!</p>
<p>Selanjutnya Beliau menasihatkan dalam memberikan keputusan terhadap musuh tidak boleh mengatasnamakan Allah. Karena bisa jadi dia tidak tepat atau tidak mencocoki hukum Allah dalam memutuskan. Wanita juga termasuk pihak yang tidak boleh dibunuh dalam peperangan. Islam dengan rahmatnya tidakmembolehkan pembunuhan terhadap wanita.</p>
<p>Pernah pada suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berjalan bersama pasukannya dalam suatu peperangan. Kemudian Beliau melihat orang-orang berkerumun pada sesuatu, maka beliau pun mengutus seseorang untuk melihatnya. Ternyata mereka mengerumuni seorang wanita yang terbunuh oleh pasukan terdepan. Waktu itu pasukan terdepan dipimpin oleh Khalid bin Walid. Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam pun bersabda: &#8220;Berangkatlah engkau menemui Khalid dan katakan kepadanya: Sesungguhnya Rasulullah melarang engkau untuk membunuh dzuriyah (wanita dan anak-anak, ed) dan pekerja / pegawai.&#8221; (HR. Abu Dawud).</p>
<p>Dalam riwayat lain Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Katakan pada Khalid jangan ia membunuh wanita dan pekerja.&#8221; (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Ath-Thahawi. Lihat Ash-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani 6 / 314).</p>
<p>Dalam riwayat yang lebih shahih dikatakan: &#8220;Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam melihat seorang wanita terbunuh dalam suatu peperangan. Maka beliau pun mengingkari pembunuhan wanita dan anak-anak.&#8221; (Muttafaqun `alaihi)</p>
<p>Dari riwayat-riwayat ini jelas bahwa wanita dan anak-anak tidak boleh dibunuh dalam peperangan. Sedangkan pegawai atau pekerja yang dimaksud adalah warga sipil yang tidak ikut dalam peperangan. Mereka ini juga tidak boleh dibunuh. Demikianlah peraturan Islam, betapa indahnya peraturan tersebut. Kaum muslimin sudah mengenal istilah &#8220;warga sipil&#8221; yang tidak boleh dibunuh sejak turunnya Al-Qur&#8217;an ribuan tahun yang lalu. Inilah kasih-sayang Islam yang datang sebagai rahmat bagi seluruh alam termasuk kepada musuhnya sekali pun.</p>
<p>Rahmat dalam Hukum Had</p>
<p>Termasuk dalam hukum had dan qishas, kasih sayang Islam tidak pernah hilang. Di samping hukum itu sendiri memang membawa rahmat, penerapannya pun tidak sembarangan. Membutuhkan penyelidikan dan kepastian serta masih terkait dengan tuntutan korban atau maafnya.<br />
Seperti hukum qishas, hukum seorang yang membunuh adalah dibunuh pula. Hukum ini membawa rahmat kepada seluruh kaum muslimin yaitu keamanan dan ketentraman. Bahkan hukum yang sepintas terlihat akan membawa korban lebih banyak, ternyata bagi orang yang cerdas akan terlihat bahwa sesungguhnya hukum ini justru menjaga kehidupan. Allah berfirman : &#8220;Sesungguhnya pada hukum qishash ada kehidupan bagi kalian wahai orang yang cerdas, semoga kalian bertakwa.&#8221; (Al-Baqarah: 179)</p>
<p>Namun hukum ini pun terkait dengan tuntutan keluarga korban. Jika mereka memaafkan maka tidak dilakukan hukum bunuh melainkan membayar diat, semacam uang denda atau tebusan senilai harga seratus ekor unta yang diberikan kepada keluarga korban. Ini pun merupakan rahmat dan keringanan dari Allah untuk mereka sebagaimana Allah katakan sendiri dalam ayat-Nya: &#8220;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita.</p>
<p>Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaknya (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat.<br />
Barangsiapa yang melampui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.&#8221; (Al-Baqarah: 178)</p>
<p>Ini pun kalau benar-benar terbukti ia membunuh dengan sengaja, kalau ternyata tidak sengaja maka tidak ada qishas yang ada adalah diat. Bahkan kalau keluarga korban akan menginfakkan tebusan tersebut kepada sipembunuh dan mema&#8217;afkannya, berarti ia tidak perlu membayar diat.</p>
<p>Walaupun yang dibunuh adalah seorang kafir mu&#8217;ahad yang terikat perjanjian, tetap wajib bagi si pembunuh yang Muslim membayar diat kepada keluarga korban serta memerdekakan seorang budak. Tetapi tidak ada qishas baginya. Allah Subhanahu wa Ta`ala berfirman: &#8220;Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain) kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu) kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu padahal ia mukmin, (maka hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mukmin.</p>
<p>Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara bertaubat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.&#8221; (An-Nisa: 92)</p>
<p>Sedangkan hukum potong tangan bagi pencuri atau hukum cambuk (bagi penzina yang belum menikah) dan rajam (bagi penzina yang telah menikah) dan lain-lain merupakan kejahatan yang jika sudah sampai kasusnya kepada pemerintah maka harus ditegakkan hukum padanya. Inipun sesungguhnya merupakan rahmat bagi seluruh kaum muslimin bahkan seluruh manusia.</p>
<p>Hukum potong tangan bagi pencuri -misalnya&#8211; membawa keamanan dan ketenangan bagi seluruh rakyat. Hukum cambuk dan rajam bagi penzina membawa keselamatan bagi seluruh manusia dari berbagai penyakit-penyakit kelamin disamping menjaga keturunan dan nasab, agar tidak tercampur dan kacau.</p>
<p>Hukum-hukum ini pun tidak begitu saja diterapkan, tetapi melalui proses dan aturan-aturan yang jelas. Seperti pada hukum potong tangan, tidak semua pencuri di potong tangannya. Jika ia mencuri di bawah tiga dirham, maka ia tidak dipotong tangannya. Berarti ada jumlah tertentu yang menyebabkan seorang pencuri mendapatkan hukuman potong tangan. Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Jangan dipotong tangan seorang pencuri kecuali pada pencurian seperempat dinar ke atas.&#8221; (muttafaqun &#8216;alaihi. Dengan lafadh Muslim).</p>
<p>Sedangkan dalam riwayat Bukhari dengan lafadh sebagai berikut: &#8220;Dipotong tangan seorang pencuri pada pencurian seperempat dinar ke atas.&#8221; (HR. Bukhari)<br />
Seperempat dinar adalah tiga dirham, karena satu dinar adalah duabelas dirham. Dalam riwayat lain dari Ibnu Umar yang juga dirkeluarkan oleh bukhari dan muslim disebutkan bahwa Rasulullah memotong tangan seorang pencuri yang mencuri sebuah tameng seharga tiga dirham: &#8220;Dari Ibnu Umar radliyallahu `anhuma bahwa Nabi shallallahu `alaihi wa sallam memotong tangan pada pencurian sebuah tameng seharga tiga dirham.&#8221; (Muttafaqun `alaihi)</p>
<p>Seperti kita katakan tadi bahwa hukum ini dilaksanakan jika sudah sampai kasusnya pada pemerintah. Adapun jika belum sampai kasusnya pada pemerintah, maka dianjurkan untuk saling memaafkan dan tidak saling menuntut. Abu Majidah menceritakan: Pernah pada suatu hari aku duduk bersama Abdullah bin Mas&#8217;ud radliyallahu `anhu, maka beliau pun berkata: Aku ingat orang pertama yang dipotong tangannya oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Waktu itu didatangkan seorang pencuri kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam. Lalu beliau pun memerintahkan untuk dipotong tangannya. Aku melihat wajah Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sepertinya memendam kekecewaan. Maka para shahabat pun berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, sepertinya engkau tidak suka orang itu dipotong tangannya?&#8221; Maka beliau pun bersabda: &#8220;Apa yang menghalangiku untuk memotongnya?&#8221; Kemudian beliau bersabda: &#8220;Janganlah kalian menjadi pendukung-pendukung setan terhadap saudaramu! Sesungguhnya tidak pantas bagi seorang imam jika telah sampai kepadanya hukum had kecuali harus menegakkannya. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf dan cinta pada pemaaf. Maka saling memaafkanlah kalian dan saling memaklumi. Bukankah kalian suka kalau Allah mengampuni kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.&#8221; (HR. Ahmad, Al-Hakim dan Baihaqi. Lihat Silsilah Al-Ahadits As-Shahihah oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah 4 / 181).</p>
<p>Demikianlah kasih sayang Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam yang diutus oleh Allah yang Maha Penyayang untuk menebarkan kasih sayang kepada seluruh alam. Kemudian mengenai hukum cambuk dan hukum rajam bagi para pezina.<br />
Apakah ini kalian anggap menghalangi kebebasanmu dalam bergaul ? Kalau kalian cerdas dan tidak sempit pandangan, kalian akan melihat bahwa hukum ini menjaga dan melindungi istrimu, anak perempuanmu, bibimu, saudara perempuanmu dan seterusnya. Bukankah ini rahmat dan kebaikan bagimu?<br />
Pernah seorang pemuda datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam meminta ijin untuk berzina. Maka dengan sabar Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menerangkan kepadanya cara berfikir yang benar: &#8220;Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada ibumu?&#8221; Anak itu menjawab: &#8221; Ayah dan ibuku sebagai jaminan! aku tidak akan ridla.&#8221; &#8220;Bagaimana pendapatmu kalau itu terjadi pada istrimu?&#8221; Anak muda itu menjawab: &#8220;Ayah dan ibuku sebagai jaminan! aku tidak akan ridla.&#8221; Demikian seterusnya Beliau menanyakan bagaimana kalau terjadi perzinaan itu pada keluarganya, anak perempuannya, kakak perempuannya, bibinya, ternyata dia tidak ridla. Maka beliaupun bersabda: &#8220;Kalau begitu orang lain pun tidak ridla perzinaan itu terjadi pada ibu-ibu mereka, istri-istri mereka, anak-anak perempuan mereka, saudara-saudara perempuan mereka, atau pun bibi-bibi mereka.&#8221;</p>
<p>Inilah hikmah ditegakkannya hukum bagi para pezina dengan cambuk atau rajam. Menjaga istri-istri kita, anak-anak perempuan kita, ibu-ibu kita, saudara-saudara perempuan kita, bibi-bibi kita, dan seterusnya. Di samping itu juga penerapannya tidak sembarangan, harus didatangkan empat saksi untuk ditegakkannya hukum ini. Dan saksi-saksi itu harus mengetahui betul kejadiannya. Bahkan harus yakin betul kalau &#8220;timba telah masuk ke dalam sumurnya&#8221;. Adapun dugaan, prasangka, atau melihatnya berpelukan, berciuman dan lain-lain belum bisa diterima sebagai saksi sampai ia yakin betul bahwa &#8220;timba telah masuk ke dalam sumurnya&#8221;.</p>
<p>Empat saksi dalam keadaan yang seperti ini sangat susah didapat. Keadaan seperti ini tidak akan didapat kecuali pada beberapa kemungkinan:<br />
Kemungkinan pertama adalah seorang yang datang mengakui bahwa dirinya telah berzina. Ini pun Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berusaha untuk memberikan kesempatan kalau dia mau mencabut ucapannya kembali sebagaimana dalam riwayat berikut: Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu bahwa datang seseorang dari kaum Muslimin kepada Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, sedang beliau berada di masjid. Orang itu memanggil Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan berkata: &#8220;Wahai Rasulullah, aku telah berzina.&#8221; Rasulullah pun memalingkan wajahnya. Kemudian orang itu bergeser ke hadapan muka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam sambil berkata kembali: &#8220;Wahai Rasulullah, sungguh aku telah berzina.&#8221;</p>
<p>Beliau pun berpaling kembali ke arah lain. Dan orang itu pun kembali mengikuti ke hadapan muka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan mengucapkan kembali ucapannya, demikian sampai empat kali. Setelah empat kali orang itu mempersaksikan atas dirinya dengan zina, Rasulullah memanggilnya dan bersabda: &#8220;Apakah engkau gila?&#8221; Orang itu menjawab: &#8220;Tidak.&#8221; Beliau berkata lagi: &#8220;Apakah engkau seorang yang muhsan ?&#8221; Orang itu menjawab: &#8220;Ya.&#8221; Maka Nabi pun memerintahkan kepada kaum Muslimin: &#8220;Pergilah kalian membawa orang ini dan rajamlah ia.&#8221; (HR. Muttafaqun `alaih)</p>
<p>Dalam riwayat Bukhari, orang tersebut ketika dirajam sempat lari. Yaitu pada saat mulai terasa batu-batu itu menyakiti tubuhnya.<br />
Namun orang-orang mengejarnya dan melanjutkan hukuman rajam sampai matinya. Ketika disampaikan kejadian larinya orang tersebut, Rasulullah bersabda: &#8220;Tidakkah kalian biarkan orang itu lari. Barangkali orang itu bertaubat kepada Allah dan Allah menerima taubatnya.&#8221; Dalam riwayat lain, beliau bersabda: &#8220;Mengapa kalian tidak membawanya kembali kemari.&#8221; (HR. Abu Dawud)</p>
<p>Oleh karena itu, Imam Syafi&#8217;i dan Imam Ahmad menyatakan: Bolehnya seorang yang sudah mengaku berzina mencabut kembali pernyataann<br />
ya dan jika orang tersebut lari tidak dikejar, semoga dia mau ruju&#8217; dan mencabut kembali ucapannya. Sekali lagi ini adalah khusus bagi yang datang mempersaksikan dirinya bahwa ia telah berzina. Inilah kasih sayang Islam kepada manusia. Tidak sekejam apa yang digambarkan oleh orang-orang kafir dan munafiqin</p>
<p>Kemungkinan kedua adalah seorang yang sangat biadab, berzina di tempat terbuka dan menjadi tontonan manusia tanpa merasa malu apalagi merasa berdosa. Atau bahkan &#8212; maaf-maaf &#8212; menjadi pemain dalam adegan-adegan porno didepan para penonton yang membayarnya. Sungguh fitrah kita pun ingin merajam orang yang seperti ini sebelum kita mengerti hukum rajam. Atau kemungkinan ketiga terbukti dengan kehamilan. Berkata Umar bin Khattab dalam khutbahnya: &#8220;…Sesungguhnya rajam itu adalah hak di dalam kitab Allah bagi orang yang berzina jika ia seorang yang muhsan, baik ia laki-laki maupun perempuan jika telah tegak bukti-bukti (saksi-saksi). Atau adanya kehamilan, atau ia mempersaksikan dirinya dengan zina.&#8221; (Muttafaqun `alaih).<br />
RAHMAT KEPADA HEWAN<br />
Kepada hewan sekali pun Islam tetap mengajarkan untuk memberikan kasih sayangnya.<br />
Dalam memelihara kita harus memberinya makan yang cukup. Dalam menunggangi kita dilarang memberikan beban yang terlalu berat. Dalam menyembelih kita harus menggunakan pisau yang tajam dan di tempat yang langsung mematikan, yaitu di lehernya. Dan seterusnya.</p>
<p>Pernah suatu hari Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memasuki perkampungan kaum Anshar. Kemudian beliau masuk ke suatu tembok kebun salah seorang dari mereka. Tiba-tiba beliau melihat seekor unta yang kurus. Ketika melihat Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam, unta itu menangis, merintih dan meneteskan air mata. Maka beliau pun mendekatinya lalu mengusap perutnya sampai ke punuknya dan ekornya. Unta itu pun tenang kembali. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda: &#8220;Siapa penggembala unta ini?&#8221;<br />
Atau dalam riwayat lain beliau bersabda: &#8220;Siapa pemilik unta ini?&#8221; Maka datanglah seorang pemuda dari Anshar, kemudian berkata: &#8220;Itu milikku ya Rasulullah.&#8221; Maka Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam berkata: &#8220;Tidakkah engkau bertakwa kepada Allah dalam memelihara ternak yang telah Allah berikan kepadamu itu? Sesungguhnya ia mengeluh kepadaku bahwa engkau melaparkan dan melelahkannya.&#8221;</p>
<p>Yakni beliau menegur si pemilik unta tersebut karena dia kurang dalam memberi makan, tetapi mempekerjakannya dengan beban yang terlalu berat. Maka beliau menegurnya dengan ucapan: &#8220;Tidakkah kamu takut kepada Allah.&#8221; Ini mengandung ancaman bagi orang yang menyiksa hewan peliharaannya. Bukankah ini suatu rahmat dan kasih sayang yang besar.</p>
<p>PENUTUP</p>
<p>Demikianlah apa yang bisa saya tulis tentang kasih sayang dan rahmat Islam kepada seluruh manusia. Mudah-mudahan Allah menambahkan kepada kita dan para pembaca sekalian keilmuan dan keimanan. Amin.<br />
Wallahu a`lam bis-shawab.</p>
<p>MARAJI&#8217;:<br />
1). Tafsirul Adhim, Ibnu Katsir, cet. Darus Salam, tahun 1413 H / 1992 M.</p>
<p>2). Fathul Bari, Ibnu Hajar, cet. Darul Fikr, tahun 1414 H / 1992 M.</p>
<p>3). Shahih Muslim dengan Syarah Imam Nawawi, Muslim bin Hajjaj, cet. Darul Ma&#8217;rifah, tahun 1414 H / 1994 M.</p>
<p>4). Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, Syaikh Al-Albani, cet. Maktabah Al-Ma&#8217;arif, tahun 1415 H / 1995 M.</p>
<p>5). Subulus Salam Syarah Bulughul Maram, Imam Ash-Shan`ani, cet. Darul Kitab, th. 1414 H / 1994 M.</p>
<p>6). Al-Hilm, Al-Hafidh Ibnu Abi Dunya dengan tahqiq Majdi Sayyid Ibrahim, cet. Maktabatul Qur&#8217;an, tanpa tahun.</p>
<p>7). Nurul Yaqin, Syaikh Muhammad Al-Khudari, cet. Darul Fikr, tahun 1414 H / 1994.</p>
<p>8). An-Nihayah fi Gharibil Hadits, Ibnu Atsir, cet. Darul Fikr, tahun 1399 H / 1979.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/islam-sebagai-rahmat-untuk-seluruh-alam/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Islam is &#8220;Take it&#8221; and &#8220;Leave it&#8221;</title>
		<link>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/islam-is-take-it-and-leave-it/</link>
		<comments>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/islam-is-take-it-and-leave-it/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 21:02:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rismaka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/islam-is-take-it-and-leave-it/</guid>
		<description><![CDATA[Manusia membutuhkan syariat dalam mengarungi kehidupan dunia, sebab yang namanya manusia sudah tentu akan melakukan gerak yang dapat mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan. Sedangkan syariat yang akan membedakan mana yang akan menghasilkan kemaslahatan dan mana yang menjerumuskan ke dalam kemudharatan. Itulah keadilan Allah pada makhluqnya, cahaya-Nya di tengah-tengah hambanya. Tidak mungkin Bani Adam akan hidup [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Manusia membutuhkan syariat dalam mengarungi kehidupan dunia, sebab yang namanya manusia sudah tentu akan melakukan gerak yang dapat mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan. Sedangkan syariat yang akan membedakan mana yang akan menghasilkan kemaslahatan dan mana yang menjerumuskan ke dalam kemudharatan. Itulah keadilan Allah pada makhluqnya, cahaya-Nya di tengah-tengah hambanya. Tidak mungkin Bani Adam akan hidup tanpa ada syariat yang mengarahkan kepada apa yang harus dilakukan dan apa yang harus ditinggalkan.. Allah berfirman, ”…Dan kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan.” (QS. An Nahl : 44). “Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhoan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS Al Maidah : 15-16). Allah juga berfirman, “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Aay Syura : 52)</p>
<p><span id="more-5"></span>
<p>Itulah Islam, Islam adalah perintah untuk beribadah kepada Allah dan melepaskan peribadahan-peribadahan kepada selainnya. Islam adalah perintah untuk mengikuti Sunnah Rasulullah dan menjauhi larangannya. Islam adalah pengagungan terhadap perintah dan larangan Allah dan Rasul-Nya, yang dengan itu semua manusia diatur kehidupannya sesuai dengan kehendak Sang Pencipta dan pengatur alam jagad raya ini. Yang dengan itu semua manusia dimulyakan atas makhluq-makhluq ciptaan lainnya.<br />
Islam bukanlah seperti yang difilm-kan oleh Si Boy atau yang digambarkan oleh seorang cow-boy, bukan pula seperti yang dicita-citakan oleh seorang sinting “Ulil Abshor”, yang mengatakan bahwa Islam yang disuguhkan dengan cara “take it” or “leave it” itu membahayakan kemajuan Umat Islam.<br />
Pernyataan yang ngaco, yang penulis kira dia bukan seorang muslim. Bagaimana tidak, dengan pernyataan itu dia menginginkan Umat Islam bebas dari syariat yang memerintah dan melarang. Tidak ada manfaatnya ketaatan dan tidak akan membahayakan kemaksiatan-kemaksiatan. Tak ada bedanya orang yang beribadah dan yang bermaksiat. Tak ada gunanya amalan-amalan shalih. Tak ada bedanya antara yang haq dan yang batil. Tidak ada prinsip Al Wala’ wal Bara’, bahkan tidak ada bedanya antara Islam dan kafir. Jelas ini adalah penghinaan terhadap syariat Allah dan penghinaan terhadap Umat Islam yang menurut dia –dengan pernyataanya itu- Umat Islam harus seperti binatang yang hidup bebas tanpa batasan norma-norma kemanusiaan. Kalau bagi dia wajar, karena dia memang seekor binatang. Tetapi kita, kita adalah Umat Islam yang dimuliakan dengan Islam –seperti pernyataan sahabat Umar ibnul Khatab-<br />
Sesungguhnya tidak ada istimewanya tulisan dan pernyataan Ulil Abshar sehingga penulis harus menghabiskan waktu untuk membantahnya, karena isinya hanya sampah dan kotoran-kotoran najis yang wajib setiap Muslim untuk menjauhinya. Penulis hanya ingin mengingatkan para pembaca –Kaum Muslimin- dengan firman Allah, “…Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu…” (QS Al Maidah : 49)<br />
Hanya dengan kembali kepada agama-Nya, kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, mematuhi segala perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya Umat Islam akan maju dan mulia, sebagaimana pernyataan Nabi,”Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian sampai kalian kembali kepada agama kalian”. Semua perintah maupun larangan Allah dan Rasul-Nya adalah sesuai dengan fitrah manusia, mengarahkan Umat Islam kepada sesuatu yang bermaslahat dan menjauhkan dari sesuatu yang mudharat, diantara yang menunjukkan hal itu :<br />
Pertama<br />
Allah memerintahkan untuk memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang baik dan mencegah dari yang munkar…” (QS Ali Imran : 110).<br />
Kedua<br />
Allah memerintahkan untuk ta’awun (tolong menolong) dalam hal kebaikan dan melarang dari ta’awun dalam hal dosa dan maksiat: “…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran…” (QS Al Maidah : 2).<br />
Ketiga<br />
Allah memerintahkan untuk menjadi para penegak keadilan: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu…” (QS An Nisa : 135).<br />
Keempat<br />
Rasulullah memerintahkan untuk bersikap jujur dan melarang dari berdusta: “Hendaklah kalian jujur karena kejujuran menghantarkan kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menghantarkan ke surga. Dan janganlah kalian berdusta karena kedustaan akan menghantarkan kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan menghantarkan ke neraka.” (HR. Bukhori Muslim dari Ibnu Mas’ud).<br />
Kelima<br />
Rasulullah melarang dari berburuk sangka: “Janganlah kalian berprasangka buruk karena ia adalah perkataan yang paling dusta.” (HR Bukhori Muslim dari Abu Hurairah)<br />
Keenam<br />
Rasulullah memerintahkan untuk menyebarkan nasihat: “Agama itu nasihat” –diulangi tiga kali-, kami bertanya, “untuk siapa wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi Kitab-Nya, Rasul-Nya dan bagi para pemimpin muslimin dan Kaum Muslimin umumnya.” (HR. Muslim dari Abi Ruqoyah Tamim Ad Dari)<br />
Akhirnya sekali lagi penulis mengingatkan kepada para pembaca –Kaum Muslimin- bahwa sekarang ini telah muncul orang-orang yang berhati syaitan tetapi bertubuh manusia seperti yang digambarkan Rasulullah dalam Shahih Bukhori, hendaknya berhati-hati dan waspada terhadap mereka. Semoga Allah senantiasa memberikan pertolongan-Nya kepada kita dan Kaum Muslimin dimanapun berada, Amin ya Mujibas saailiin.</p>
<p>FATWA SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL UTSAIMIN<br />
TENTANG<br />
HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI WANITA, MERATAPI MAYIT DAN MENGANTAR JENAZAH</p>
<p>Beliau berkata:<br />
Ziarah kubur bagi wanita adalah haram, bahkan termasuk dosa besar jika keluar ke kuburan dengan tujuan itu. Karena Nabi melaknat para peziarah kubur –dari kalangan wanita-, yakni mendoakan mereka dengan laknat. Sedang laknat ialah menolak dan menjauhkan dari rahmat Allah, dan yang demikin tidak terjadi kecuali disebabkan karena dosa besar. Namun apabila seorang wanita keluar dengan suatu keperluan, kemudian melewati kuburan/ pemakaman, maka tidak mengapa ia berdiri dan mengucapkan salam pada ahli kubur. Dan seperti inilah yang dipahami dari apa yang diriwayatkan Imam muslim dari Aisyah, dia berkata, “Wahai Rasulullah bagaimana aku mengucapkan kepada mereka ?” Beliau menjawab, “ucapkanlah: Assalamu ala ahli diyar minal mukminin wal muslimin wayarhamullah almustaqodimin wal musta’khirin wa inna InsayAllah bikum lahikun”.<br />
Adapun meratapi mayit maka ini haram bahkan juga termasuk dosa besar, karena telah ada dari dari Rasulullah bahwa beliau melaknat orang yang meratapi mayit.<br />
Sedangkan mengantar jenazah bagi wanita juga haram karena kurang sabarnya mereka akan hal ini dan akan mengundang fitnah serta ikhtilath (bercampur baur) bersama lelaki.<br />
Semoga Allah menjadikan kita sebagia hamba-hamba yang shalihin dan muslihin.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/islam-is-take-it-and-leave-it/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Agama Islam Adalah Agama Nasehat</title>
		<link>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/agama-islam-adalah-agama-nasehat/</link>
		<comments>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/agama-islam-adalah-agama-nasehat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 20:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rismaka</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Aqidah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/agama-islam-adalah-agama-nasehat/</guid>
		<description><![CDATA[Diriwayatkan dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad Daary: sesungguhnya Nabi ??bersabda, &#8220;Agama itu nasehat.&#8221; Kami bertanya, &#8220;Untuk siapa?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan umumnya mereka&#8221; (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya). Hadits ini diriwayatkan dari segolongan para shahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Tamim Ad Daary dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diriwayatkan dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad Daary: sesungguhnya Nabi ??bersabda, &#8220;Agama itu nasehat.&#8221; Kami bertanya, &#8220;Untuk siapa?&#8221; Beliau menjawab, &#8220;Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan umumnya mereka&#8221; (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya). Hadits ini diriwayatkan dari segolongan para shahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Tamim Ad Daary dan Ibnu Umar radliyallahu &#8216;anhum (lihat Al Irwa&#8217; No. 26)</p>
<p><span id="more-3"></span>
<p>Definisi Nasehat<br />
Nasehat kadang-kadang bermakna khulush (bersih, murni dan yang lainnya). Bisa juga artinya menjahit (lihat Lisanul Arab, 2/615). Ibnu Katsir berkata dalam An Nihayah: &#8220;Nasehat adalah sebuah kata yang mengungkapkan tentang kalimat yang berisi keinginan agar yang dinasehati mendapat kebaikan.&#8221; Abu Amr bin Ash Shalah berkata: &#8220;Nasehat adalah sebuah kalimat yang ringkas yang mengandung usaha si penasehat dengan memberi berbagai segi kebaikan secara kehendak dan perbuatan kepada yang dinasehati.&#8221;</p>
<p>Nasehat Untuk Allah<br />
Nadhim Sulthan berkata dalam Al Qawa&#8217;id hal. 91-96: &#8220;Nasehat untuk Allah adalah dengan beriman yang jujur kepadaNya. Dengan apa-apa yang dikabarkan dan diceritakan di dalam kitabNya dan juga yang melalui RasulNya shallallahu &#8216;alaihi wasallam. Juga dengan ikhlas beribadah kepadaNya semata dan tidak beribadah kepada selainNya, mematuhi apa saja yang telah diperintahkanNya, menjauhi apa yang dilarangNya, mencintai apa yang Dia cintai, membenci yang Dia benci, berwala&#8217; kepada hamba-hambaNya yang beriman dan sebaliknya memusuhi serta menjauhi musuh-musuhNya.&#8221;<br />
Barangsiapa yang telah berhasil menunaikan itu berarti dia telah membersihkan dirinya dari karat-karat dan kotoran-kotoran yang rendah dan dia telah melakukan nasehat bagi Allah. Makna nasehat di sini adalah ikhlas kepada Allah dan yang menguatkannya adalah firman Allah: &#8220;Tidak dosa (lantaran tidak pergi jihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan RasulNya&#8221; (QS. At Taubah: 91). Makna nasehat pada ayat ini adalah mengikhlaskan ucapan dan perbuatan.<br />
Imam Al Qurthubi menyatakan dalam tafsirnya terhadap ayat ini bahwa para ulama berkata: &#8220;Nasehat bagi Allah adalah memurnikan keyakinan dalam ketunggalanNya dan juga memberi sifat kepadaNya sifat-sifat keilahan, mensucikanNya dari segala kekurangan serta mencintai yang dicintaiNya dan menjauhi yang dibenciNya&#8221; (Tafsir Al Qurthubi 8/227)</p>
<p>Nasehat Untuk KitabNya<br />
Yaitu beriman dengan kitabNya menurut cara yang dicontohkan para salaful ummah. Keyakinan para salaf tentang Al Qur&#8217;an adalah meyakini bahwa Al Qur&#8217;an adalah kalamullah, dan bukan makhluk. Al Imam Abu Utsman Ash Shabuni mengatakan dalam risalah Aqidatus Salaf Ashabil Hadits: &#8220;Para ahlul hadits bersaksi dan meyakini bahwa Al Qur&#8217;an adalah kalamullah, kitab dan wahyuNya bukan makhluk. Barangsiapa yang mengatakan Al Qur&#8217;an adalah makhluk dengan keyakinan, maka dia dianggap kafir oleh para ahlul hadits.&#8221; Al Qur&#8217;an adalah kalamullah dan wahyuNya yang dibawa oleh Jibril kepada Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam, berbahasa Arab untuk kaum yang mengetahui sebagai pemberi peringatan dan kabar gembira, sebagaimana firman Allah: &#8220;Dan sesungguhnya Al Qur&#8217;an ini benar-benar diturunkan oleh Rabb semesta alam. Dia dibawa oleh Ar Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.&#8221; (Asy Syu&#8217;ara: 192-195)<br />
Al Qur&#8217;an adalah wahyu yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wasallam kepada umatnya, sebagaimana beliau diperintahkan oleh Allah dalam ayat: &#8220;Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu.&#8221; (Al Maidah: 67). Dan Al Qur&#8217;an adalah kalamullah sebagaimana hadits dari Jabir yang menceritakan Nabi menawarkan dirinya kepada orang yang pulang haji: &#8220;Adakah seorang yang akan membawaku kepada kaumnya, sebab orang Quraisy telah melarangku untuk menyampaikan kalam Rabbku.&#8221; (HR. Bukhari dalam Khalqul Af&#8217;alil Ibad 86, 205). Itulah Al Qur&#8217;an, dia bukan makhluk. Barangsiapa yang mengira dia makhluk, maka dia dianggap kafir menurut para ahlul hadits.<br />
Imam Al Qurthubi mengatakan dalam tafsirnya Al Jami&#8217; li Ahkamil Qur&#8217;an, ketika menafsirkan makna &#8216;nasehat bagi kitab Allah&#8217; adalah dengan:</p>
<p>a. Membacanya<br />
Membaca Al Qur&#8217;an memiliki banyak keutamaan. Hadits Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wasallam yang berkaitan dengan hal ini di antaranya adalah: &#8220;Bacalah Al Qur&#8217;an oleh kalian, karena dia akan datang di hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.&#8221; (HR. Muslim dalam Kitabul Musafirin No.252/804)</p>
<p>b. Memahaminya<br />
Kebanyakan kaum muslimin membaca Al Qur&#8217;an dengan indah, tetapi tidak memahami arti dan tafsir yang benar tentangnya. Demikian juga orang-orang yang menghafal Al Qur&#8217;an tetapi tidak memahaminya dan hanya sebatas menghafal huruf-hurufnya saja.<br />
Al Imam Ath Thurthusi dalam Al Hawadits hal. 96, yang ditahqiq oleh Syaikh Ali Hasan, menyatakan: &#8220;Termasuk kebid&#8217;ahan yang dilakukan oleh orang-orang tentang Al Qur&#8217;an adalah sekedar menghafal huruf-hurufnya tanpa memahaminya.&#8221; Imam Malik meriwayatkan dalam Muwatha&#8217;nya 1/205 menyatakan: &#8220;Abdullah bin Umar berhenti pada surat Al Baqarah selama delapan tahun. Para ulama berkata bahwa maknanya adalah beliau mempelajari faraidlnya, hukumnya, halal haramnya, janji, ancamannya dan lain-lain.&#8221;<br />
Diriwayatkan dari Malik dalam Al Utaibah, beliau berkata: &#8220;Pernah ditulis surat kepada Umar bin Al Khathab dari Irak yang mengabarkan kepadanya bahwa beberapa orang telah menghafal Al Qur&#8217;an. Maka Umar memberikan imbalan pada mereka dengan mengatakan: Berikan kepada mereka harta.&#8221; Kemudian bertambah banyaklah orang yang menghafal Al Qur&#8217;an. Satu tahun setelah itu ditulis surat kepada Umar bahwa ada 700 orang yang telah menghafal Al Qur&#8217;an. Kemudian Umar membalas: &#8220;Aku khawatir kalau mereka bersegera dalam Al Qur&#8217;an tanpa memahaminya.&#8221; Imam Malik berkata: &#8220;Maknanya adalah beliau khawatir kalau mereka menakwilkannya dengan tidak benar.&#8221;<br />
Beginilah keadaan para pembaca Al Qur&#8217;an di masa ini. Kamu dapati mereka sanggup meriwayatkan Al Qur&#8217;an dengan 100 jenis riwayat, mengatur hurufnya dengan rapi, padahal dia sangat jahil terhadap hukum-hukumnya. Kalau engkau menanyakan kepadanya permasalahan sebenarnya tentang niat dalam wudlu, tempatnya, membawakannya, membatalkannya dan dalam memisah-misahkannya terhadap anggota-anggota wudlu, dia tidak bisa menjawab padahal dia membaca dan menghafal ayat: &#8220;Wahai orang-orang yang beriman, bila kalian hendak mengerjakan shalat maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai siku.&#8221; (Al Maidah: 6). Bahkan kalau engkau bertanya kepadanya apakah perintah Allah dalam ayat ini menunjukkan wajib atau nadb atau istihbab atau waqf atau mubah, belum tentu ia dapat menjawab secara rinci.<br />
Imam Malik pernah ditanya tentang anak berumur 7 tahun yang telah menghafal Al Qur&#8217;an, maka beliau menjawab: &#8220;Menurutku hal itu tidak patut.&#8221; Sisi pengingkaran beliau dalam hal ini adalah karena para shahabat membenci cepat-cepat menghafal Al Qur&#8217;an tanpa memahami maknanya. Al Hasan berkata: &#8220;Sesungguhnya Al Qur&#8217;an ini telah dibaca oleh para hamba dan anak-anak. Tapi mereka tidak tahu tafsirnya dan tidak memulai dari awalnya padahal Allah telah berfirman:<br />
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran (Shad : 29)<br />
Tadabur terhadap ayat-ayat-Nya adalah mengikutinya dengan Ilmu. Demi Allah, bukan dengan menghapal huruf-hurufnya dan menyia-nyiakannya hukum-hukumnya, sampai salah seorang mereka ada yang berkata :&#8217;Demi Allah, aku telah membaca Al-Qur&#8217;an semuanya dan tidak satupun tertinggal dari hurufnya.&#8217; Padahal dia-demi Allah- telah meninggalkannya. Tidak terlihat Al-Qur&#8217;an pada Akhlak dan amalnya. Diantaranya lagi ada yang berkata :&#8217; Demi Allah aku bisa membaca Al-Qur&#8217;an dengan satu nafas.&#8217; Meraka bukanlah qurra&#8217; dan bukan pula ulama yang wara&#8217;. Kapan para qurra&#8217; mengatakan demikian? Semoga Allah tidak memperbanyak orang-orang seperti mereka.”<br />
Al-Hasan berkata lagi :&#8221; Orang yang membaca Al-Qur&#8217;an ada tiga jenis :</p>
<p>Pertama, Dia membaca Al-Qur&#8217;an dia jadikan Al-Qur&#8217;an sebagai barang dagangan dan dengannya dia mengharap harta manusia dari satu negeri ke negeri yang lain<br />
Kedua, Ada yang membaca Al-Qur&#8217;an dengan indah, tetapi mereka menyia-nyiakan hukum-Nya. Meraka mengalirkan harta banyak harta yang dimiliki para penguasa dan memfitnah para penduduk negerinya. Alangkah banyak yang demikian. Semoga Allah tidak memperbanyak orang-orang yang demikian.<br />
Ketiga, Ada yang membaca Al-Qur&#8217;an, dia memulai dengan yang mengandung obat yang dia ketahui dari Al-Qur&#8217;an. Kemudian dia gunakan untuk mengobati hatinya. Meleleh air matanya. Dia bergadang tidak tidur, sedih, khusyu&#8217;. Karena mereka, Allah menurunkan hujan, memusnahkan musuh-musuh, menolak bala. Demi Allah, pemikul Al-Qur&#8217;an seperti ini sangat sedikit di kalangan manusia.&#8221; (Masih dalam Tafsir Al-Qurthubi).<br />
Beliau melanjutkan:&#8221; Allah telah berfirman tentang orang-orang yang menghafal kitab-kitab yang turun dari langit yang mereka tidak mengerti hukum-hukumnya, halal dan haramnya dengan ucapan-Nya :<br />
Di antara mereka ada orang-orang yang ummi, mereka tidak mengetahui tentang Al-Kitab kecuali membaca (amani) dan mereka hanya menduga-duga (Al-Baqarah : 78).<br />
Meraka menghafal Al-Qur&#8217;an tetapi tidak mengetahui apa yang telah diturunkan oleh Allah di dalamnya tentang hikmah-hikmah ddan pelajaran. Maka Allah mensifati mereka bahwa mereka hanya sekedar amani. Amani dalam konteks ini berarti tilawah (membaca).<br />
Sufyan pernah berkata : &#8220;Tidak ada di dalam kitabullah ayat yang paling berat bagiku kecuali :<br />
Katakanlah :&#8221; Wahai ahli kitab, kalian tidak dipandang beragama sedikitpun sampai kalian menegakkan ajaran Taurat dan Injil (Al-Maidah : 68). Menegakkan artinya, memahami dan mengamalkannya.&#8221; (Selesai ucapan Thurthusyi).</p>
<p>c. Membelanya<br />
Selanjutnya Imam Qurthubi mengatakan :&#8221;Seseorang tidak akan bisa membela Al-Qur&#8217;an, kecuali kalau dia memahami isinya&#8221;. (Selesai Ucapan Imam Qurthubi). Baik dari segi bahasa (nahwu, sharaf dan lain-lain) atau tafsirnya. Bagi orang yang lemah dalam hal-hal tersebut biasanya ketika diterpa badai syubhat dari ahlul bid&#8217;ah, dia akan tenggelam.<br />
Membela Al-Qur&#8217;an bisa dalam banyak hal. Yaitu dalam semua perkara yang telah diterangkan Allah dalam Al-Qur&#8217;an. Yang terpenting adalah dalam hal-hal yang berkaitan dengan perkara I&#8217;tiqad dan hukum.&#8221; (Sumber yang sama).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>
d. Mengajarkannya<br />
Pada point berikutnya beliau berkata :&#8221;Mengajarkan Al-Qur&#8217;an mengandungkeutamaan, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Qur&#8217;an dan menajarkannya (HR. Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi).</p>
<p>e. Memuliakannya<br />
Memuliakan Al-Qur&#8217;an ketika membacanya berarti kita harus beradab ketika itu, seperti dalam keadaan wudlu, tidak bersandar dan tidak duduk seperti orang yang sombong.<br />
Memuliakan Al-Qur&#8217;an bukan hanya seperti yang dipahami oleh orang-orang awam yaitu dengan meletakkannya di tempat yang bersih, melainkan dibaca dan diamalkan setelah dipahami. Bahkan kadang-kadang ada rumah kaum muslimin yang tidak memiliki Al-Qur&#8217;an. Kalaupun punya, diletakan dalam lemari dan disimpan tanpa pernah disentuh.</p>
<p>f. Berakhlaq dengannya<br />
Manusia yang telah mengamalkan Al-Qur&#8217;an adalah Rasulullah shalallau&#8217;alaihi wa sallam. Bila kita ingin mengamalkan Al-Qur&#8217;an dan berakhlak dengannya maka hendaknya kita melihat Akhlak beliau. Hal itu pernah diucapkan oleh Aisyah radliyallahu&#8217;anha – Ibu kaum muslimin.<br />
Akhlak Nabi shalallahu&#8217;alaihi wa sallam adalah Al Qur&#8217;an (HR. Muslim no. 746).</p>
<p>Nasehat Bagi Rasul-Nya<br />
Imam Al-Qurthubi dalam tafsir itu juga menyatakan bahwa maksud nasehat kepada Rasulullah shalallhu&#8217;alaihi wa sallam adalah :<br />
a. Membenarkan kenabiannya.<br />
b. Iltizam taat kepadannya dalam larangan dan perintah.<br />
c. Mencintai orang yang mencitainya dan membenci orang yang membencinya.<br />
d. Menghormatinya.<br />
e. Mencintai beliau dan keluarganya.<br />
f. Mengagungkan beliau.<br />
g. Mengagungkan sunnah beliau.<br />
h. Menghidupkan sunnahnya setelah wafatnya dengan:<br />
- Membahasnya.<br />
- Memahaminya.<br />
- Membelanya.<br />
- Menyebarkannya.<br />
- Berdalwah kepadanya.<br />
i. Berakhlak dengan akhlak beliau yang mulia (8/227).</p>
<p>Nasehat Bagi Para Pemimpin Kaum Muslimin<br />
Maksudnya adalah sebagaimana yang dinyatakan oleh Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Al-Fath I/167 : &#8220;Membantu mereka pada perkara yang mereka pikul, mengiatkan mereka ketika lupa atau lalai, menutup kesalahan mereka ketika bersalah, menyatukan suara untuk mereka, mengembalikan hati-hati yang lari kepada mereka dan nasehat terbesar bagi mereka adalah menyelamatkan mereka dari kedhaliman dengan cara yang baik.<br />
Termasuk pemimpin kaum musl;imin adalah para imam mujtahidin. Nasehat untuk mereka adalah dengan menyebarkan iilmu mereka dan menyebarkan kebaikan-kebaikan mereka serta berbaik sangka kepada mereka. &#8221; (Fathul Bari).<br />
Menurut Imam Qurthubi : &#8221; Maksudnya tidak memberontak kepada mereka, membimbing mereka kepada kebenaran, mengiatkan mereka tentang perkara kaum muslimin yang mereka lalaikan, tetap taat kepada mereka dan menunaikan hak mereka yang wajib.&#8221; (Tafsir Al-Qurthubi, 8/227).<br />
Sedangkan Al-Hafidh Ibnu Rajab berkata :&#8221; Maksudnya mencintai kebaikan, kecerdasan dan keadilanmereka, mencintai agar ummat ini bersatu di bawah kepemimpinan mereka, benci kalau terpecahnya ummat ini di bawah kepemimpinan mereka, beragama dengan taat kepada mereka dalam perkara taat kepada Allah, membenci orang-orang memiliki pendapat memberontak kepada mereka, mencintai kemulaan mereka dalam taat kepada Allah.&#8221; (Iqadhul Himam).</p>
<p>Nasehat Bagi Kaum Muslimin<br />
Imam Quthubi berkata : &#8221; Maksudnya tidak memusuhi mereka, membimbing mereka, mencintai orang shalih diantara mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka dan menginginkan agar mereka mendapat kebaikan.&#8221;<br />
Ibnu Hajar berkata : &#8221; Maksudnya menyayagi mereka, berusaha pada hal-hal yang bermanfaat bagi mereka, mengerjakan yang bermanfaat bagi mereka, menhan gangguan terhadap mereka, mencintai bagi mereka apa yang dicintainya bagi dirinya dan membenci bagi mereka apa yang dibencinya bagi dirinya.&#8221;<br />
Imam An-Nawawi berkata : &#8221; Maksudnya membimbing mereka menuju kebaikan di dunia dan akhirat mereka, tidak mengganggu mereka, mengajarkan kepada mereka yang tidak mereka ketahui tentang agama mereka, membantu mereka untuk itu denganucapan dan amalan, menutup aurat mereka, menolak bahaya terhadap mereka, mengusahakan agar mereka mendapat kebaikan, menyuruh mereka kepda yang ma&#8217;ruf, mencegah mereka dari yang mungkar dengan kasih sayang dan ikhlas, menyayangi mereka, menghormati yang tua dari mereka, menyayangi yang muda, selalu menasehati mereka, tidak menipu mereka, tidak dengki kepada mereka, mencintai bagi mereka apa yang dicintai bagi dirinya dari kebaikan, membenci bagi mereka apa yang dibenci bagi dirinya dari kejahatan dan kejelekan, membela harta dan kehormatan mereka serta yang selain itu dengan ucapan dan tindakan, menganjurkan mereka untuk berakhlak dengan seluruh apa yang telah kita sebutkan tadi, memberi semangat agar mereka melakukan amalan-amalan taat.&#8221; (syarah shahih Muslim, 1/239).<br />
&#8220;Dan termasuk jenis nasehat bagi Allah, kitab-Nya dan Rasul-Nya dan hal ini khusus bagi para ulama adalah membantah pendapat-pendapat yang sesat dengan Al-Quran dan as-sunnah dan menerangkan dalil-dalil keduanya kepada yang menentang dan begitu pula membantah ucapan-ucapan yang lemah dari para ulama karena ketergelinciran dengan berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur&#8217;an dan as-sunnah dan menerangkan hadits yang shahih atau dlaif serta rawi-rawinya, yang diterima dan yang ditolak.&#8221; (Ibnu Rajab dalam Iqadhatul Himam hal.129).</p>
<p>Wallahu&#8217;alam bish-shawab.</p>
<p>
Penulis: Ustadz M. Ali Ishmah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://abuhafsh.salafy.ws/2009/03/03/agama-islam-adalah-agama-nasehat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
